Program “Menjerukkan Bonjeruk” Jadi Senjata Galih Gentar Wardana Pemuda Asal Desa Wisata Bonjeruk Tembus Pemuda Pelopor NTB 2026, Bawa Nama Lombok Tengah dan Sejarah Bupati Pertama Lalu Serinata sebagai cikal bakal hari jadi Lombok Tengah ke 81 tahun.
BONJERUK, NTB EXPOSE. Dalam setiap kompetisi kepeloporan, selalu ada satu program yang menjadi golden tiket atau biasa disebut tiket emas. Bagi Galih Gentar Wardana, pemuda yang kini resmi mewakili Kabupaten Lombok Tengah di ajang Pemuda Pelopor 2026 tingkat Provinsi NTB bidang Seni dan Budaya, tiket emas itu bernama “Menjerukkan Bonjeruk”.
Program inilah yang mengantarkannya dari seorang pemuda Desa Wisata Bonjeruk menjadi duta kepeloporan Loteng di tingkat provinsi. Bukan program kuliner, bukan program seremonial, melainkan sebuah gerakan kultural yang berani mengembalikan ingatan sebuah desa yang telah berusia 169 tahun.
Selama ini branding Desa Wisata Bonjeruk berhenti pada Cerorot, Serabi Laklak, dan Ayam Merangkat. Galih melihat itu sebagai potensi yang belum lengkap. Ia kemudian meretas sebuah terobosan” bagaimana jika sejarah desa itu sendiri yang dijadikan daya tarik utama.
Maka lahirlah “Menjerukkan Bonjeruk” sebuah inisiatif untuk membuat Bonjeruk kembali menjadi Bonjeruk. Mendokumentasikan, mempopulerkan, dan mengemas kembali cerita budaya turun-temurun, sejarah tutur, dan jejak arsitektur kedistrikan kolonial Belanda yang masih berdiri kokoh di Bonjeruk sebagai bekas pusat pemerintahan.
Program ini bukan sekadar dokumentasi. Ia adalah gerakan restorasi memori kolektif.
Dan dari program inilah, Galih menemukan narasi besar yang selama ini hilang antara desa dan kabupaten, “bahwa Desa Bonjeruk berusia 169 tahun adalah rahim lahirnya Kabupaten Lombok Tengah yang akan berusia 81 tahun pada 15 Oktober ini.
Penghubung keduanya adalah satu nama dengan dua identitas
“Lalu Serinata” dikenal dengan sebutan ” Raden Obris ” — nama Kepala Pemerintahan atau Bupati pertama Lombok Tengah, putra asli Bonjeruk yang berkaitan dengan sejarah lahirnya Kabupaten Lombok Tengah saat pengangkatannya sebagai bupati pertama Lombok Tengah pada tanggal 15 Oktober 1945 lalu.
Secara yuridis, Lombok Tengah dibentuk tahun 1958 lewat UU No. 69 Tahun 1958. Namun secara historis-sosiologis, Lombok Tengah lahir pada 15 Oktober 1945, ketika Raden Obris alias Lalu Serinata pemilik Gdeng Beleq yang merupakan salah satu situs sejarah lokal di Desa Bonjeruk tersebut, dilantik sebagai Kepala Pemerintahan Setempat pertama pasca Proklamasi. Tanggal sakral itulah yang menjadi Hari Jadi Kabupaten Lombok Tengah yang akan diperingati pada pada hari Kamis 15 Oktober atau Minggu depan.
Inilah ” kecerdasan program Menjerukkan Bonjeruk ” sebagai tiket menuju Pemuda Pelopor NTB. Ia tidak hanya menjual program desa. Ia mengintegrasikan atau menjual sejarah kabupaten. Ia mengingatkan Lombok Tengah bahwa untuk mewujudkan tema besar HUT ke-81 tahun ini — “Kerja Nyata, Wujudkan Masmirah”
Maknanya: Maju. Ekonominya maju, pariwisatanya mendunia kayak Mandalika. Sejahtera, Rakyatnya makmur, tidak ada yang tertinggal. Bermartabat, Berbudaya, religius, dan berkarakter Sasak.
kita harus kembali ke kerja nyata pertama yang dilakukan Raden Obris di tahun 1945, berani membangun pemerintahan dari nol di tengah kekosongan pasca-kolonial.
“Kegiatan ini bertujuan agar Desa Bonjeruk kembali mengembalikan branding desa agar cerita budaya yang turun-temurun di Desa Bonjeruk terus berkelanjutan dan akan selalu diingat,” ujar Galih, sang penggagas program yang kini membawa dan mengharumkan nama Loteng di NTB.
Ketua Pokdarwis Bonjeruk Permai, Pak Usman, menegaskan kekuatan program tersebut sebagai pembeda.
“Jadi bukan sekadar makanan tradisionalnya yang bisa diangkat di Desa Bonjeruk, melainkan sejarah dan cerita budaya turun-temurun yang bisa diangkat juga melalui program Menjerukkan Bonjeruk oleh Galih Gentar Wardana ini,” ungkapnya, Rabu (7/10/2025).
Melalui momentum Pemuda Pelopor NTB 2026 ini, Galih Gentar Wardana telah membuktikan satu hal, program yang berakar pada sejarah 169 tahun desanya, mampu menjadi tiket untuk mengharumkan nama Kabupaten Lombok Tengah di tingkat provinsi, sekaligus menjadi kado paling intelektual untuk Hari Jadi ke-81 kabupaten.
Karena pada akhirnya, “Menjerukkan Bonjeruk bukan sekadar program lomba. ” Ia adalah jalan pulang. Jalan untuk memastikan bahwa dari Bonjeruk, kita belajar tentang asal-usul, dan dari Raden Obris, kita belajar tentang arti kerja nyata untuk mewujudkan Loteng Masmirah. Berangkat dari program desa untuk panggung provinsi. Dari 169 tahun Bonjeruk untuk 81 tahun Lombok Tengah.(*/Rd)












