NTB EXPOSE. LOMBOK TENGAH – Menjelang Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Serentak 2026, Bupati Lombok Tengah, H. Lalu Pathul Bahri S.IP., M.AP., menegaskan satu pesan kunci: persatuan dan kondusivitas adalah harga mati yang tidak boleh ditawar.
Pesan tegas namun menyejukkan itu disampaikan Pathul Bahri saat menghadiri Deklarasi Damai Pilkades Kecamatan Jonggat yang digelar di halaman Kantor Camat Jonggat, Sabtu (17/10/2026).
Kegiatan yang menjadi penanda komitmen bersama untuk mewujudkan demokrasi desa yang bermartabat ini turut dihadiri Wakil Bupati Lombok Tengah, Dr. H. M. Nursiah,S.Sos.,M.Si., Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) Kabupaten Lombok Tengah, Baiq Murniati, S.Sos., M.AP., Forkopimcam Jonggat, serta para calon kepala desa dari 10 desa di Kecamatan Jonggat yang akan bertarung dalam Pilkades serentak.
Dalam arahannya, Bupati Pathul Bahri mengingatkan bahwa perbedaan pilihan adalah keniscayaan dalam demokrasi, bukan alasan untuk memecah belah. Karena itu, ia meminta setiap calon kepala desa tampil sebagai pemimpin yang dewasa dan bertanggung jawab penuh dalam mengendalikan simpatisan dan tim pemenangannya.
“Calon kepala desa harus bertanggung jawab untuk mengarahkan simpatisannya. Mari kita sama-sama menjaga kondusivitas dan keamanan. Ini merupakan ketentuan yang memang harus kita lakukan,” tegas Pathul Bahri di hadapan para calon.
Menurutnya, deklarasi damai tidak boleh hanya menjadi seremoni dan formalitas di atas kertas. Komitmen damai harus diwujudkan dalam sikap, ucapan, dan tindakan nyata di lapangan selama seluruh tahapan Pilkades.
Pathul Bahri menekankan, dalam kontestasi Pilkades, jalan damai adalah satu-satunya pilihan rasional. Sebab, dari tiga hingga lima calon yang bersaing di setiap desa, pada akhirnya hanya satu orang yang akan mendapat amanah rakyat.
“Tidak ada jalan lain selain jalan damai, karena kepala desa itu hanya satu, sementara calon di masing-masing desa ada yang tiga dan ada yang lima,” ujarnya lugas.
Ia mengingatkan bahwa semangat membangun desa tidak boleh berhenti hanya karena gagal terpilih. Jabatan kepala desa bukanlah satu-satunya jalan pengabdian. Kontribusi untuk kemajuan desa bisa dilakukan melalui peran apa saja — sebagai tokoh masyarakat, pemuda, petani, maupun pengusaha.
“Saya berharap, membangun itu bukan hanya sebagai kepala desa. Kita bisa membangun melalui peran apa saja,” ungkap Bupati yang dikenal komunikatif itu.
Di akhir arahannya, Pathul Bahri mengajak seluruh calon untuk memiliki kedewasaan politik: siap berkompetisi secara sehat, dan siap menerima hasil dengan lapang dada. Siapa pun yang memperoleh suara terbanyak harus dihormati sebagai pemimpin yang sah yang mendapat legitimasi masyarakat.
Pesan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa persaingan dalam Pilkades hanyalah kontestasi lima tahunan, sedangkan hubungan kekeluargaan, persaudaraan, dan bertetangga adalah untuk selamanya. Jangan sampai karena beda pilihan sesaat, silaturahmi yang telah terjalin puluhan tahun menjadi rusak.
Melalui deklarasi damai ini, diharapkan seluruh calon kepala desa, tim pemenangan, dan simpatisan tidak hanya mengucapkan komitmen damai secara lisan, tetapi juga membuktikannya hingga hari pencoblosan dan pasca-pencoblosan. Sebab, keberhasilan Pilkades sejatinya tidak hanya diukur dari siapa yang menang, melainkan dari kemampuan seluruh pihak menjaga persatuan dan memastikan proses demokrasi berjalan aman, tertib, jujur, dan damai.(*/Ntbexpose/04)






