Ketika TTC Menjahit 5 Kabupaten dengan Spirit HUT Loteng ke-81 dan Denyut Nadi Sport Tourism Dunia MotoGP Mandalika 2026
Ada cara yang berbeda dalam memaknai sebuah hari jadi. Jika daerah lain merayakannya dengan seremoni di ruangan ber-AC, Lombok Tengah memilih cara yang lebih tangguh, lebih membumi meraung di atas aspal, menempuh 275 kilometer, menjahit persaudaraan lintas kabupaten.
Inilah esensi dari Tangguh Touring Club (TTC) Season X. Berlangsung di tengah dua momentum besar, peringatan Hari Jadi Kabupaten Lombok Tengah ke-81 yang jatuh pada Kamis, 15 Oktober 2026, dan gegap gempita menyambut sport tourism kelas dunia MotoGP 2026 di Sirkuit Mandalika kebanggaan Lombok Tengah pada 9-11 Oktober mendatang, TTC hadir bukan sekadar komunitas hobi, melainkan duta pariwisata bergerak.
Pelepasan dilakukan secara khidmat oleh Wakil Bupati Lombok Tengah, Dr. H. M. Nursiah,S.Sos., M.Si., di pelataran utama Kantor Bupati, Minggu (27/9) pukul 08.00 WITA.
Di hadapan ratusan rider, Wabup menitipkan pesan yang fundamental “touring ini harus menjadi representasi wajah Lombok Tengah yang santun, tertib, dan simpatik. “Utamakan ketertiban, keamanan dan keselamatan. Bawalah kesan positif selama melintasi berbagai daerah dan kabupaten lain di Pulau Lombok,” pesannya.
Bagi Pembina TTC, Drs. H. L. Aknal Afandi, M.M., touring ini telah bertransformasi menjadi sebuah ritual tahunan dan menjadi gerakan kolektif. Tahun ini adalah tahun kelima, sebuah konsistensi yang menunjukkan kematangan dan komitmen.
“Touring ini adalah agenda resmi HUT Lombok Tengah ke-81 yang sudah dipersiapkan jauh sebelumnya. Ini sudah masuk tahun kelima kalinya dan rutin kita laksanakan setiap September atau Oktober menjelang Hari Jadi Lombok Tengah,” ujar Aknal.
Maksud dan tujuannya, tegas Aknal, adalah syiar. Syiar untuk mengingatkan bahwa Lombok Tengah telah berusia 81 tahun dan terus bergerak untuk lebih baik dalam menata masa depannya. “Start dari Praya Lombok Tengah, kita akan melintasi lima kabupaten/kota. Dari Lombok Tengah ke Lombok Timur, kemudian ke Kabupaten Lombok Utara, masuk ke Lombok Barat, terus ke Mataram dan finish kembali di Praya,” jelasnya.
Menariknya, TTC yang berbasis di Lombok Tengah ini tidak eksklusif. Semangatnya justru inklusif dan kolaboratif. “Setiap ulang tahun Lombok Tengah kita tidak menunjukkan TTC-nya saja. Kita mengajak semua club otomotif dan komunitas motor yang ada di Pulau Lombok. Komunitas dari Lombok Tengah, Lombok Timur, Lombok Barat dan dari Mataram juga ikut serta. Hanya club dari KLU yang belum bergabung,” kata Aknal.
Diketahui Filosofi disiplin cerminan kesiapan tuan rumah MotoGP. Inilah benang merah yang paling cerdas dari TTC Season XI. Di saat Mandalika bersolek untuk MotoGP, TTC justru melakukan simulasi kedisiplinan, walau dalam skala kecil.
“Nah, bertepatan dengan momen MotoGP sport tourism kelas dunia di Sirkuit Mandalika, paling tidak kalau tidak bisa mengendarai motor besar di sirkuit, kita bisa merasakan sensasi mengaspal itu dengan motor yang kita miliki saat touring ini,” ujarnya lugas.
Rute 275 KM itu bukan sekadar angka. Ia adalah laboratorium kedisiplinan. “Yang kita tekankan dalam touring ini adalah disiplin berlalu lintas dan menjaga kelengkapan, itu syarat utama. Motor-motor yang ikut sudah kita kurasi, di luar itu tidak bisa diikutkan. Sebelum start kita cek kelengkapannya, helm adalah kelengkapan mutlak yang wajib dipenuhi. Alhamdulillah, karena sudah kita himbau dari jauh, semua persyaratan safety terpenuhi,” tegasnya.
Filosofi ini, menurutnya, adalah cerminan pesan yang harus disampaikan Lombok Tengah sebagai tuan rumah.
“Pesan kita selaku masyarakat Lombok Tengah sebagai tuan rumah kepada pengunjung, penonton daerah, nasional dan dunia pada penyelenggaraan MotoGP adalah yang utama kita harus mengedepankan keamanan dan kenyamanan. Setiap penonton yang masuk ke Lombok Tengah tentu harus mengikuti ketentuan dari petugas jauh-jauh hari, terutama melengkapi diri dengan tiket dan lainnya, sehingga begitu sampai di sirkuit tidak mengecewakan,” kata Aknal.
Kurikulum Pariwisata Berjalan. Lebih dari itu, TTC Season XI adalah kurikulum pariwisata berjalan, sebuah studi banding di atas motor. Touring ini dirancang sebagai agenda promosi pariwisata yang terintegrasi, tidak hanya untuk Lombok Tengah tetapi juga kabupaten lain.
“Seperti contoh di Sembalun, ini merupakan wisata pegunungan yang khas dan unik dengan suasana alam Gunung Rinjani Geopark dunia yang luar biasa. Kita bisa melewati rest area-nya sambil melihat pariwisatanya dan kita bisa mendapatkan sesuatu yang bisa kita tiru, modifikasi ataupun kita kreasikan,” ucap Aknal.
“Begitu juga di KLU, Senggigi Lombok Barat, kita bisa mengintegrasikan ataupun mengkolaborasikan apa yang relevan dan linier dengan pariwisata kita di Lombok Tengah. Kenapa tidak?,” sambungnya.
Harapannya, dengan cara ini arus kunjungan wisata tidak terkotak-kotak, melainkan menyebar dan meramaikan semua kabupaten/kota di Pulau Lombok dengan pola berantai dan saling mendukung satu sama lain.
Di akhir wawancara, Aknal memberikan catatan kritis yang konstruktif kepada Pemerintah Daerah dan Dinas Pariwisata Lombok Tengah.
“Masukan kita terhadap Dinas Pariwisata dan Pemda, tentu kita harus berbenah. Kita tidak menutup mata, kemungkinan masih ada hal-hal yang belum maksimal dikelola dengan baik. Itulah yang menjadi PR kita ke depan untuk dibenahi, sehingga wisatawan merasa aman dan nyaman berwisata di Lombok Tengah,” ujarnya.
Karena, bagaimanapun, pariwisata tidak bisa dibangun oleh satu OPD saja. “Hal itu tidak akan selesai dengan ruang lingkup terkecil sekalipun. Kita semua harus bersama-sama peduli menjaga ketertiban, keamanan, kenyamanan, terutama kebersihan, sehingga prioritas pariwisata bisa kita laksanakan,” harapnya.
Diketahui, peserta touring ini terdiri dari lintas unsur, mulai dari ASN, kepala desa, kadus, lurah, camat, kepala OPD, hingga Sekda Lombok Tengah HL. Firman Wijaya yang ikut sebagai rider.
“Kita berharap semua sebagai tuan rumah, terutama para kepala desa dan semua unsur masyarakat menjelang MotoGP harus mengutamakan kenyamanan sebagai prioritas bersama dalam menjaga Kamtibmas. Tidak hanya untuk MotoGP saja, tetapi apapun kegiatan pariwisata harus berjalan lancar, sukses dan aman,” pungkas Aknal Afandi.
Hal yang sama juga dikatakan oleh salah satu peserta Komunitas motor FREEMO (Freedom Max Owner) salah satu Komunitas motor yang eksis dan berjaya di Lombok Tengah dengan ketuanya Lalu Karyadi S.Com. Agenda touring ini memang harus tetap dilaksanakan sebagai kegiatan wajib setiap tahunnya, ini bukan saja untuk hobi semata melainkan sebagai salah satu kolaborasi aktif dunia otomotif dan pariwisata hingga membangun citra positif yang penuh kreativitas,” kata Karyadi yang akrab disapa Om Ari ini.
Kami para komunitas motor tidak mesti harus terstigma negatif dengan genk motor yang meresahkan. Oleh karena itu kami bersama FREEMO siap mendukung dan bersinergi dengan Pemerintah dalam Menyemarakan HUT Loteng ke 81 serta menyambut Gemuruh MotoGP Mandalika 2026, serta selalu mensosialisasikan cara berkendaraan yang baik dan aman dengan melengkapi safety dlm berkendaraan,” tegas owner PCOM (Praya Compute centre) salah satu Lembaga Kursus Pelatihan komputer ternama di Praya ini.
Dalam touring tersebut, rombongan tiba di Sembalun sekitar pukul 11.00 WITA kemudian ISOMA, lalu melanjutkan perjalanan menuju KLU. Rombongan mengisi rundown acara di Pantai Sire KLU, untuk beristirahat sejenak sembari pembagian doorprize dan hiburan bagi peserta, lalu kembali melanjutkan perjalanan menuju Lombok Barat dengan melintasi pesisir pantai utara, melewati kawasan wisata Malimbu, Senggigi, lalu memasuki Kota Mataram hingga finish di Kota Praya dan kembali ke rumah masing-masing dengan selamat dan penuh kelegaan.(*/Rd)












