Galih Gentar Wardana Cetus Gerakan “Menjeruk kan Bonjeruk” Wakili Lombok Tengah di Lomba Pemuda Pelopor Tingkat Propinsi NTB 2026

NTB EXPOSE, LOMBOK TENGAH — Cerita tutur dan asal-usul nama sebuah daerah sering kali hanya tersimpan sebagai memori kolektif yang makin memudar seiring zaman. Berangkat dari kegelisahan tersebut, Galih Gentar Wardana, seorang pemuda asal Desa Bonjeruk, Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah, menginisiasi gerakan budaya bertajuk “Menjerukkan Bonjeruk”.

Gerakan ini berfokus pada revitalisasi identitas budaya lokal melalui aksi nyata penghijauan dan pelestarian pohon jeruk di tanah kelahirannya.

Secara etimologi bahasa Sasak, nama Bonjeruk berasal dari kata “Bun” atau “Buwun” yang berarti sumur, dan “Jeruk” yang merujuk pada pohon jeruk. Menurut sejarah tutur setempat, di wilayah tersebut dahulu terdapat sumber air tua yang mengalir di sekitar pepohonan jeruk yang tumbuh subur dan menjadi penopang warga saat musim kemarau. Namun seiring berjalannya waktu, keberadaan pohon jeruk di Desa Bonjeruk justru makin langka.

“Hadirnya saya di sini adalah untuk mewujudkan cerita budaya tersebut agar tidak berhenti sekadar sebagai mitos atau legenda tutur semata. Kami ingin masyarakat lokal maupun wisatawan yang berkunjung ke Desa Wisata Bonjeruk bisa benar-benar melihat dan menikmati kembali rindangnya pohon jeruk,” ujar Galih kepada media baru baru ini.

Melalui kolaborasi bersama pemuda karang taruna dan warga setempat, Galih menggerakkan aksi pembibitan mandiri dengan teknik mencangkok pohon jeruk milik warga. Langkah teknis ini kemudian dikemas menjadi atraksi edukatif yang melibatkan pengunjung, komunitas pencinta alam, hingga wisatawan.

Tak berhenti di tingkat desa, gerakan pelestarian ini disinergikan ke dalam agenda tahunan Bonjeruk Culture Festival, sebuah festival budaya kebanggaan masyarakat Bonjeruk Jonggat dan Lombok Tengah umumnya. Aksi ini juga mendapat dukungan penuh dari mitra strategis seperti PT Jasa Raharja dalam memperluas cakupan penanaman dan edukasi lingkungan.

Berkat konsistensi dan dampak sosial-budaya yang dihasilkan dalam memelopori, inisiatif “Menjerukkan Bonjeruk” ini mengantarkan Galih Gentar Wardana mewakili daerahnya dalam ajang “Lomba Pemuda Pelopor Tingkat Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB)” untuk Bidang Seni dan Budaya.

Melalui gerakan berkelanjutan ini, Galih berharap Desa Bonjeruk tidak hanya memperkuat pencitraan (branding) sebagai desa wisata budaya, tetapi juga mampu mewariskan identitas fisik dan nilai-nilai sejarahnya kepada generasi mendatang.(*/Rd)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *