Bupati Lalu Pathul Bahri dan Dinas Pariwisata Gagas Penataan Ulang Desa Adat Sade, Fahri Hamzah Usung Konsep Indonesia ASRI Pasca Kebakaran

Abu masih menyisakan bekas di bilik-bilik bambu Desa Adat Sade, Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Rabu (2/9/2026). Jejak kebakaran beberapa hari lalu belum sepenuhnya hilang, tapi semangat untuk membangun kembali sudah lebih dulu menyala.

Di tengah reruntuhan rumah tradisional dan lapak tenun yang biasa jadi denyut ekonomi warga, Wakil Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman Fahri Hamzah datang bersama Bupati Lombok Tengah Lalu Pathul Bahri yang didampingi Kepala Dinas Pariwisata Lombok Tengah Lalu Hata. Kunjungan itu bukan sekadar tinjauan, melainkan awal dari gagasan besar, membangun kembali Sade dengan wajah baru yang lebih aman dan nyaman, tanpa sedikit pun meluruhkan jati diri budaya Sasak.

Fahri berdiri di pelataran dusun yang dulu ramai wisatawan. Ia melihat dinding bambu yang menghitam, atap ijuk yang ambruk, dan tatapan warga yang mencampur cemas dengan harapan. Bagi Wamen PKP itu, Sade bukan sekadar objek wisata.

Tempat ini adalah ruang hidup yang menyimpan cara orang Sasak merawat rumah, bertenun, dan menjaga nilai kebersamaan.

“Desa Sade menunjukkan kekhasan dari budaya kita, khususnya orang Sasak di Lombok. Karena itu saya mengusulkan dibangun ulang dalam bentuk yang lebih baik, lebih nyaman dan aman,” ujarnya di hadapan warga dan jajaran pemerintah daerah.

Di sisi Fahri, Bupati Lalu Pathul Bahri mengangguk. Bagi pemerintah daerah, luka di Sade juga luka pariwisata Lombok Tengah. Dinas Pariwisata Lombok Tengah selama ini menempatkan Desa Adat Sade sebagai salah satu pintu utama pengenalan budaya Sasak kepada dunia.

Setiap hari ratusan wisatawan datang untuk melihat arsitektur rumah panggung, belajar menenun, dan mencicipi keramahan warga. Ketika api melalap sebagian kawasan, bukan hanya lapak yang terbakar, tapi juga narasi budaya yang selama ini dijaga. Karena itu, Bupati menegaskan pemerintah kabupaten siap menjadi motor penggerak bersama kementerian dan Dinas Pariwisata untuk merancang ulang kawasan ini.

Adapun konsep yang ditawarkan Fahri mengacu pada arahan Presiden dalam rapat terbatas beberapa waktu lalu, yakni Indonesia ASRI. Empat kata sederhana itu, Aman, Sehat, Resik dan Indah, kini hendak diterjemahkan ke dalam bentuk fisik Desa Adat Sade. Artinya, rumah-rumah tradisional tetap mempertahankan bentuk dan material khas, tapi ditopang sistem keamanan yang lebih baik. Instalasi listrik yang selama ini menjadi titik rawan akan ditata ulang.

Sanitasi, jalur evakuasi, dan ruang publik juga masuk dalam daftar prioritas agar warga dan wisatawan bisa beraktivitas tanpa rasa takut.

“Harus ada pertemuan lintas kementerian dan bekerja sama dengan kampus serta para ahli untuk mendesain Desa Adat Sade yang lebih ASRI,” kata Fahri.

Ia membayangkan meja diskusi yang mempertemukan Kementerian PKP, Kementerian Pariwisata, pemerintah daerah, Dinas Pariwisata Lombok Tengah, arsitek, antropolog, hingga perwakilan warga Sade sendiri.

Tujuannya satu, memastikan pembangunan kembali tidak melahirkan Sade yang steril dan kehilangan ruh. Sebaliknya, Sade yang baru harus tetap terasa seperti Sade sederhana, hangat, dan otentik.

Bupati Lalu Pathul Bahri menambahkan, peran Dinas Pariwisata akan sangat sentral. Selain menata daya tarik wisata, dinas juga diminta merumuskan skema agar aktivitas ekonomi warga, terutama penenun dan pemandu wisata, bisa segera pulih. “Kita tidak ingin wisatawan datang dan hanya melihat bangunan baru. Mereka harus tetap bisa merasakan proses menenun, cerita lisan, dan cara hidup masyarakat Sasak yang sudah turun-temurun,” ujar Bupati.

Menurutnya, keberlangsungan budaya itu sama pentingnya dengan perbaikan infrastruktur.

Fahri juga menyoroti dampak kebakaran yang lebih luas dari sekadar kerugian materi. Ia khawatir jika pemulihan hanya fokus pada bangunan, maka pengetahuan yang hidup di dalamnya bisa tergerus. Di Sade, rumah bukan hanya tempat tinggal. Ia adalah laboratorium budaya tempat anak-anak belajar nilai, tempat perempuan mewariskan teknik tenun, dan tempat tetua bercerita tentang asal-usul. “Terlebih musibah ini tidak hanya berdampak terhadap aktivitas komersial, tapi juga berdampak terhadap pengetahuan,” tegasnya.

Tanda-tanda solidaritas sudah muncul. Fahri menyebut sudah ada sumbangan dari masyarakat dan pihak lain untuk membangun kembali fasilitas umum, termasuk masjid di kawasan tersebut. Namun ia menegaskan negara tidak boleh lepas tangan.

“Saya mendengar sudah ada sumbangan untuk membangun kembali masjid. Tapi pemerintah bertanggung jawab untuk mengurusi semua agar infrastruktur Dusun Sade memungkinkan bertahan lama,” katanya.

Kini bola ada di tangan pemerintah pusat dan daerah. Dengan Dinas Pariwisata Lombok Tengah sebagai ujung tombak di lapangan dan Bupati Lalu Pathul Bahri sebagai penghubung langsung ke masyarakat, rencana revitalisasi Sade diharapkan tidak berhenti di atas kertas. Bagi warga Sade, yang mereka butuhkan bukan sekadar rumah baru. Mereka ingin rumah yang tetap bisa bercerita, yang tetap bisa mengajarkan anak cucu tentang siapa orang Sasak, dan yang tetap bisa menyambut tamu dengan senyum di beranda bambu.(*/Rd)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *