Haji Agus Salim : Miris, Gedung Belasan Miliar Mati Suri Saat MotoGP dan Mandalika Mendunia. Saatnya Disulap Jadi Mesin PAD
Sebuah ironi pariwisata terjadi di jantung ibu kota Lombok Tengah. Di saat MotoGP 2026 dan Mandalika dipoles habis-habisan menjadi destinasi super prioritas kelas dunia, sebuah aset megah bernilai belasan miliar rupiah justru dibiarkan mati suri.
Gedung Bekas Hotel Aerotel Praya, yang berdiri di lokasi paling premium – tepat berhadapan dengan Kantor Bupati Lama dan di sisi timur Rumah Dinas Sekda Lombok Tengah – kini dalam kondisi memprihatinkan. Tak terurus, cat mengelupas, dan kerusakan terlihat di berbagai sudut. Aset yang seharusnya menjadi mesin uang daerah, kini hanya menjadi monumen kemubaziran.
Kondisi inilah yang mengusik keprihatinan Haji Agus Salim, tokoh masyarakat Kuta dikenal sebagai pelaku akomodasi pariwisata dan pemilik hotel di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika.
Bagi Agus Salim yang selalu dikenal sederhana dan familiar ini mengatakan,” membiarkan Aerotel terlantar adalah kemunduran nalar pariwisata. Di saat Lombok Tengah kekurangan venue yang representatif, gedung yang sudah jadi justru diabaikan.
“Kenapa tidak bangunan tersebut dimanfaatkan sebagai lokasi hiburan masyarakat dalam kota ? Gedung tersebut bisa dimanfaatkan menjadi gedung acara pernikahan, entertainment, rapat, ataupun acara-acara lainnya,” ujar Agus Salim dengan nada prihatin, Sabtu (11/10/2026).
Gagasan ini, menurutnya, lahir dari realitas di lapangan. Ia mencontohkan betapa sulitnya masyarakat di wilayah Pujut dan sekitarnya mencari lokasi yang layak untuk menggelar acara besar, baik acara kematian, begawe (pesta adat Sasak), maupun hajatan keluarga. Keterbatasan lahan dan minimnya lahan parkir menjadi persoalan klasik.
“Kita di Pujut sudah kesulitan menampung tamu, untuk lahan parkir saja saat ini sulit karena keterbatasan lahan. Sehingga jika nanti gedung tersebut dihidupkan kembali, semua acara bisa dipusatkan di sana tentu dengan harga rakyat,” katanya.
Namun visi besar Haji Agus Salim yang dikenal berpenampilan khas dan lebih sering memakai sarungan tersebut, tidak berhenti pada gedung hajatan semata. Ia menawarkan lompatan pemikiran yang jauh lebih modern dan berdaya saing yaitu konsep MICE, semacam bangunan khusus yang dirancang untuk mewadahi berbagai kegiatan pariwisata, bisnis dan acara lainnya yang meliputi Meeting (pertemuan), Incentive (wisata insentif), Convention (konvensi/konferensi), dan Exhibition atau pameran berskala nasional hingga internasional,” kata Agus Salim.
“Bayangkan. Jika Aerotel Praya disulap menjadi Lombok Tengah MICE Center, maka Praya tidak hanya menjadi kota transit menuju Mandalika, tetapi menjadi destinasi itu sendiri,” jelas Agus Salim.
Dengan MICE Center, rapat-rapat kedinasan pemerintah, DPRD, konvensi nasional, pameran UMKM, hingga pernikahan mewah bisa terpusat di jantung kota. Pemerintah tidak perlu lagi jauh-jauh menyewa hotel di luar daerah hanya untuk sebuah rapat.
Tentu, restorasi ini tidak bisa dilakukan setengah hati. Agus Salim menekankan dua kunci utama, logika bisnis yang sehat dan kesiapan sumber daya manusia yang memadai.
Gedung ini harus dikelola secara profesional dan berorientasi pada profit untuk menjadi sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD), namun tetap dengan harga yang berpihak kepada masyarakat.
“Nanti kalau sudah direstorasi tetap harus bisa menghasilkan PAD buat daerah, untuk sisi bisnis income tetap harus diprioritaskan bukan digratiskan. Dan kalau Pemda serius ingin menata dan memperbaiki gedung itu, tentu dampak positif yang luar biasa akan timbul, di sana bisa menyerap lapangan kerja baru bagi masyarakat,” tegasnya.
Lebih jauh, ia mengingatkan, fungsi utama Aerotel sebagai hotel dengan ruang inap yang nyaman bagi tamu tetap harus dimaksimalkan dengan fasilitas yang memadai dan standar pelayanan yang baik.
Pada akhirnya, Gedung Aerotel Praya adalah cerminan visi pariwisata Lombok Tengah. Apakah akan terus dibiarkan menjadi puing yang mubazir di jantung kota, atau akan segera disulap menjadi ikon baru kebangkitan ekonomi kreatif, pusat MICE, dan destinasi wisata urban yang membanggakan.Pilihan strategis itu kini ada di tangan Pemerintah Daerah,” tutup Agus Salim.(*/Rd)











