NTB EXPOSE. Mataram – Lebaran Idul Fitri 1447 H hampir saja diwarnai perang atau tawuran masal antar kampung di Kota Mataram sekitar pukul 19.30 wita hari. Minggu (22/3) Dari informasi yang dihimpun media dari berbagai sumber menyebutkan, bahwa telah terjadi kesalahpahaman antar pemuda dari kedua Lingkungan Petemon dan Presak Timur Kelurahan Pagutan Kecamatan Mataram kota Mataram.
Adapun kronologis kejadian bermula pada hari Minggu tanggal 22 Maret 2026 pukul 17.50 wita di perbatasan antara Kelurahan Pagutan Presak dan Petemon atau dijalan raya Bung Karno, warga Patemon bernama Dedi dan istrinya baru saja pulang dari Surandi di pepet oleh dua pemotor yang diduga pemuda dari kelurahan Pagutan Presak.
Setelah di pepet, Dedi turun dari sepeda motor menanyakan maksud dan tujuan mereka memepet kendaraannya, kemudian terjadi cekcok berujung terjadinya pemukulan menggunakan helm oleh Dedi.
Setelah kejadian tersebut para pemuda asal Presak melakukan pengeroyokan terhadap Dedi. Usai melakukan pengeroyokan, rupanya persoalan itu tercium petugas kepolisian, lalu sekitar pukul 19.30 wita pada hari itu juga anggota Polsek Mataram mengamankan 5 orang terduga pemuda pagutan Presak yang melakukan pengeroyokan.
Tidak berselang beberapa lama sekitar pukul 20.00 wita pihak polsek Mataram memanggil toga, toma dari ke-dua kelurahan untuk melakukan mediasi. Sampai saat ini situasi di Mako Polsek Mataram masih ricuh / Chaos, dikarenakan tidak adanya titik temu dari mediasi. Namun warga kelurahan Petemon meminta agar pelaku pengeroyokan dikeluarkan untuk diadili oleh masyarakat. Sehingga membuat situasi menjadi semakin memanas.
Diketahui sampai saat ini situasi masih di Mako Polsek Mataram masih memanas, masa dari kedua belah pihak masih berkumpul di Polsek hingga diperkirakan tidak menutup kemungkinan akan adanya serangan susulan yang dilakukan oleh warga Petemon terhadap warga pagutan Presak, mengingat tidak terimanya keluarga korban terhadap pelaku pengeroyokan tersebut.(*)






