NTB EXPOSE. Lombok Tengah – Penanganan stunting diberbagai desa di wilayah Kabupaten Lombok Tengah terus dilakukan Dinas Kesehatan melalui puskesmas puskesmas yang tersebar di 12 Kecamatan. Tidak terkecuali untuk Kecamatan Praya Tengah khususnya di Puskesmas Desa Pengadang saat ini tetap aktif melakukan penanganan stunting. Seperti dikatakan oleh HL. Azhar SKM selaku pimpinan Puskesmas didampingi petugas penanganan stunting dan gizi ibu kepada wartawan. Jumat (14/6) kemarin.
Azhar mengungkapkan, untuk penanganan stunting di Puskesmas Pengadang yang meliput 5 desa dan 2 Kelurahan, yaitu desa Pengadang Jurang Jaler, Beraim, Dakung, Desa Prai Meke beserta dua kelurahan yaitu Jontlak dan Kelurahan Gerantung masih kita lakukan.
Penanganan stunting khususnya di wilayah Puskesmas Pengadang untuk angka terakhirnya sampai bulan April lalu sekitar 12,5 persen. Penanganannya sama dengan puskesmas lainnya yang tersebar di Lombok Tengah,” kata Azhar.
Untuk capaian kerja kita dihitung persemester pada triwulan pertama sebelumnya pada angka 16 persen dan turun menjadi 12,5 persen. Selain itu program dipuskesmas sudah berjalan dengan baik seperti imunisasi, penanganan ibu hamil, donor darah posyandu keluarga dan semua program yang ada di Puskesmas Pengadang kita sudah menangani termasuk stunting.
Lebih jauh Azhar mengatakan, di setiap item tersebut ada target yang harus dicapai namun yang paling trend sekarang dan dijadikan program nasional adalah stunting, dan penyebab stunting itu meliputi banyak hal khususnya terkait persoalan kesehatan sebenarnya sekitar 30 persen dan selebihnya 70 persen tersebut, itu diluar persoalan kesehatan,” ujarnya.
Segala bentuk program itu sudah kita lakukan seperti penanganan ibu hamil, artinya semua indikator dan target yang harus dicapai itu sudah kita lakukan semua seperti di penanganan gizi ibu hamil dan lain sebagainya, kata Azhar.
Hanya saja yang perlu kita maksimalkan sekarang adalah kolaborasi dengan lintas sektoral itu yang dinilai masih kurang, karena walaupun diforum kita keras menyuarakan tapi itu percuma kalau tidak diimbangi dengan aplikasi atau praktek di lapangan.
Dicontohkannya, untuk desa desa kita kasi penyuluhan dan pemahaman gizi, lalu disana juga ada kesling ( kesehatan lingkungan ) kesga ( kesehatan keluarga) dan ada penyakit penyakit penyerta, misalnya ketemu dengan penanganan stunting, siapa tahu dia ada yang TB itu yang membuat kami sebagai petugas gizi menjadi tantangan terbesarnya.
Dijelaskannya, sebagai petugas gizi musuh terbesar kita adalah jajanan snack snack yang dijual sembarang hingga diragukan jaminan kesehatan dan kebersihannya, dimana dan kemana kita harus melapor supaya itu tidak beredar agar tidak di konsumsi anak anak, karena hal itu berpengaruh besar terhadap perkembangan gizi anak anak kita,” kata Azhar.
Nah ! persoalan persoalan temuan dilapangan terkait tentang kurang terkontrolnya pengawasan peredaran makanan anak anak seperti snack snack yang dimaksud tersebut, kerapkali menjadi persoalan persoalan yang berkaitan dengankesehatan anak dan berpotensi menyebabkan gangguan kesehatan seperti stunting dan penyakit penyakit lainnya. (Ntbexpose/03)












