NTB EXPOSE. Lombok Tengah – Peran strategis RSUD Praya dalam peta kesehatan nasional dan global semakin menguat. Rumah sakit kebanggaan masyarakat Lombok Tengah ini dipercaya menjadi salah satu lokasi kunci penguatan surveilans genomik melalui CAGED Project, sebuah inisiatif kolaboratif berskala internasional yang mencakup wilayah Asia-Pasifik dan Afrika.
Kepercayaan ini menempatkan RSUD Praya sejajar dengan institusi kesehatan lain di kawasan yang terlibat dalam pengembangan sistem deteksi infeksi berbasis teknologi genomik terkini.
Chief Operating Officer Summit Institute for Development (SUMMIT), Lia Rosida, S.Pd, M.Dev.St, menjelaskan bahwa pemilihan RSUD Praya bukan tanpa alasan. CAGED Project sendiri merupakan inisiasi dari SUMMIT Institute for Development yang bekerja sama dengan Oxford University Clinical Research Unit (OUCRU) Indonesia, dengan misi besar memperkuat kapasitas surveilans genomik dan menerjemahkan informasi genomik menjadi langkah nyata yang dapat ditindaklanjuti dalam kebijakan kesehatan masyarakat.
“CAGED Project merupakan inisiasi dari Summit Institute for Development yang bekerja sama dengan OUCRU Indonesia. Dan di Lombok Tengah, RSUD Praya menjadi salah satu lokus utama implementasinya, salah satunya melalui surveilans Klebsiella pneumoniae atau Kpn,” jelas Lia melalui saluran telekomunikasi, Kamis (17/09/2026).
Fokus pada Klebsiella pneumoniae di RSUD Praya dinilai sangat relevan. Lia memaparkan, Kpn merupakan patogen prioritas yang berkontribusi signifikan terhadap morbiditas dan mortalitas, terutama pada kelompok paling rentan.
Di lingkungan RSUD Praya, kelompok tersebut meliputi neonatus yang dirawat intensif di ruang NICU dan para ibu pasca persalinan, khususnya yang menjalani persalinan melalui tindakan seksio sesarea. Infeksi yang berkaitan dengan Kpn seringkali sulit ditangani karena tingginya pola resistensi terhadap antimikroba.
Melalui penguatan yang dilakukan di RSUD Praya, tim CAGED mendukung rumah sakit dalam memantau secara presisi pola infeksi, peta resistensi antimikroba (AMR), serta memahami potensi jalur transmisinya di lingkungan fasilitas kesehatan.
“Dengan mengintegrasikan surveilans genomik, pemantauan klinis yang ketat, koleksi sampel yang sistematis, serta tindak lanjut postpartum berbasis komunitas, CAGED Project yang berpusat di RSUD Praya ini diharapkan dapat memberikan gambaran yang jauh lebih komprehensif mengenai beban dan pola infeksi, termasuk infeksi yang berkaitan dengan Kpn,” paparnya.
Artinya, RSUD Praya tidak hanya menjadi lokasi pengambilan sampel, tetapi menjadi pusat pembelajaran model surveilans masa depan, di mana data laboratorium genomik langsung terhubung dengan data klinis pasien dan pemantauan di komunitas.
Lebih dari itu, kolaborasi antara RSUD Praya dengan SUMMIT-OUCRU tidak berhenti pada surveilans infeksi. Lia mengungkapkan, saat ini tengah diinisiasi kerja sama strategis baru yang juga akan berpusat di RSUD Praya, yakni Early Risk Detection – Promising Project.
Jika CAGED fokus pada ancaman infeksi, proyek kedua ini fokus pada keselamatan ibu dan bayi.
“Kerja sama ini berfokus pada deteksi dini risiko pada ibu hamil dan persalinan. Melalui pendekatan ini, diharapkan dapat membantu tenaga kesehatan di RSUD Praya dan jejaring Puskesmas di bawahnya untuk mengidentifikasi risiko sejak awal, termasuk menentukan apakah seorang ibu dapat melahirkan dengan aman di Puskesmas atau memerlukan rujukan ke RSUD Praya,” ujar Lia.
Menurutnya, sistem deteksi dini yang dikembangkan di RSUD Praya ini berpotensi menjadi solusi atas tantangan klasik rujukan terlambat. Dengan mampu mengantisipasi lonjakan jumlah ibu hamil dengan risiko tinggi maupun persalinan berisiko yang membutuhkan penanganan rumah sakit, sistem ini akan mendukung pengambilan keputusan yang lebih cepat, tepat, dan menyelamatkan nyawa dalam perencanaan persalinan.
RSUD Praya diharapkan menjadi role model bagaimana data dan teknologi dapat membantu bidan dan dokter membuat keputusan rujukan yang lebih akurat.
Meski memiliki potensi besar, Lia menegaskan bahwa program Early Risk Detection ini masih berada pada tahap inisiasi yang sangat awal.
“Saat ini, tim masih dalam proses pengembangan dan melihat bagaimana pendekatan tersebut dapat diimplementasikan ke depannya bersama manajemen dan tim medis di RSUD Praya,” tutup Lia.(*/Ntbexpose/






