NTB EXPOSE. LOMBOK TENGAH – RSUD Praya tidak berjalan sendiri dalam meningkatkan layanan kesehatan ibu dan anak. Melalui kolaborasi dengan Summit Institute for Development (SID), sebanyak 18 puskesmas di Kabupaten Lombok Tengah digandeng dalam studi SMART-MMS.
Pjs Direktur RSUD Praya, dr. Mamang Bagiansyah menjelaskan pelibatan puskesmas menjadi kunci untuk membangun continuum of care yang utuh.
“Dari total 60 puskesmas di lima kabupaten/kota se-Pulau Lombok dengan target 1.200 ibu hamil, 18 di antaranya ada di Lombok Tengah. Ini bagian dari upaya membangun ekosistem, bukan program yang berdiri sendiri,” jelas dr. Mamang jumat (11/09/2026) di kantor nya.
Dalam studi SMART-MMS yang bertujuan meningkatkan kepatuhan ibu hamil mengonsumsi Multiple Micronutrient Supplementation (MMS) dan kalsium, peran puskesmas sangat vital. Mulai dari kepala puskesmas, bidan koordinator, tenaga kefarmasian dan tenaga gizi dilibatkan dalam workshop dan koordinasi.
Strukturnya dirancang berjenjang. Dinas Kesehatan berperan dalam koordinasi dan supervisi, sementara bidan desa dan puskesmas menjadi ujung tombak edukasi, distribusi, dan pemantauan langsung di lapangan.
Inovasinya memadukan pendekatan digital dan offline. “Dikembangkan pendekatan seperti pengingat konsumsi melalui WhatsApp, edukasi digital, gamifikasi, AI pill counting serta dashboard monitoring. Tapi untuk wilayah yang memiliki keterbatasan akses digital tetap disiapkan pendekatan offline melalui komunikasi langsung dan kunjungan rumah,” ungkap dr. Mamang.
Menurutnya, penguatan jejaring rujukan dari posyandu, bidan desa, puskesmas hingga rumah sakit menjadi fokus utama.
“Kita ingin memastikan inovasi terhubung dengan sistem yang sudah ada. Kalau kita mampu mengetahui lebih cepat wilayah mana yang mempunyai risiko atau kepatuhan rendah dari data puskesmas, maka intervensinya juga bisa lebih cepat dan terarah. Prinsipnya inovasi harus terintegrasi, bukan menambah beban baru bagi tenaga kesehatan,” tegasnya.
Dampak jangka pendeknya, masyarakat akan merasakan edukasi kehamilan yang lebih intensif, pemantauan yang lebih ketat, dan koordinasi rujukan yang lebih cepat antara puskesmas dan RSUD Praya.(Ntbexpose/04)









