Desa Wisata Ganti Dari Budaya Asap Tembakau dan Aroma Melon Menjadi Magnet Wisata Multi-Potensi di Timur Lombok Tengah

Photo Lalu Jasmawadi ( kaos putih ) saat berada di kampung budaya desa wisata Ganti.

Bertahan di Tengah Lesunya Desa Wisata Lewat Budaya, Tembakau dan Melon Ekspor, Desa Wisata Ganti di Praya Timur Siapkan Paket Wisata Edukasi Jelang MotoGP 2026 

Di tengah menurunnya geliat desa wisata di Lombok Tengah pasca-era keemasan 5 – 6 tahun lalu, ada desa yang memilih tidak berhenti. Desa itu bernama Ganti terletak di Kecamatan Praya Timur Kabupaten Lombok Tengah Propinsi Nusa Tenggara Barat.

Secara administratif, Desa Ganti adalah salah satu dari 14 desa yang ada di Kecamatan Praya Timur, Kabupaten Lombok Tengah. Desa ini memiliki luas wilayah 1.512 hektare, atau sekitar 18,3 persen dari total luas Kecamatan Praya Timur yang mencapai 8.257 Ha, menjadikannya desa terluas di kecamatan tersebut. Wilayahnya berada di jalur timur Lombok Tengah yang berbatasan langsung dengan Lombok Timur dan Samudra Indonesia di selatan.

Dari luasan itulah, multi-potensi itu lahir. Ketua Forum Desa Wisata Tastura Lombok Tengah yang juga pengelola Desa Wisata Ganti, Lalu Jasmawadi, mengakui bahwa kondisi desa wisata saat ini tidak semegah di era Menteri Pariwisata Sandiaga Uno. Saat itu program, pendampingan, dan event untuk Pokdarwis melimpah.

“Banyak program kegiatan yang diberikan bagi pelaku desa wisata dan Pokdarwis di waktu lalu. Dampaknya sangat dirasakan. Sekarang memang tidak seperti dulu, tapi kami di Desa Wisata Ganti memilih tetap mempertahankan eksistensi dengan pengelolaan mandiri,” ujar Jasmawadi, yang juga sebagai praktisi pariwisata dan budaya kepada media ini Kamis (24/9).

yang membuat Ganti tetap bertahan menurut Jasmawadi adalah pertama Wisata Budaya dan Edukasi Adat. Berbeda dengan desa wisata yang menjual view atau pemandangan saja, Ganti kental dengan nuansa etnik kultur budaya dan aroma perkebunan tembakau rakyat yang luas telah menjadi identitas turun-temurun. Nuansa itu tidak dibiarkan menjadi artefak, melainkan dikreasi menjadi atraksi penuh kreatifitas,” ujar Jasmawadi.

Ganti memiliki tiga pilar budaya yang dijadikan pendongkrak ekonomi lokal, Seni Budaya, Agriculture Culture, dan Lembaga Pendidikan Adat Budaya. Wisatawan tidak hanya menonton, tapi belajar. Ada paket wisata edukasi adat, belajar menanam tembakau Virginia, hingga memahami filosofi gotong-royong ala Tastura,” ujar Jasmawadi yang kerap tampil sebagai Pembayun ini.

Kedua disini kami memiliki Agrowisata Melon Standar Hotel berbintang. Ini pembeda Desa Wisata Ganti. Di tengah lahan tembakau, tumbuh pusat pertanian melon premium yang sudah menembus pasar perhotelan. Melon dari Ganti tidak hanya dikonsumsi lokal, tapi sudah menjadi langganan hotel-hotel di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika, Kuta, hingga Bali dan Jakarta.

“Potensi pertanian melon ini sudah cukup terkenal oleh wisatawan Nusantara dan mancanegara. Ini menjadi akses publikasi pariwisata kami yang paling efektif,” kata Jasmawadi.

Konsepnya adalah ” farm to table tourism. Wisatawan diajak memetik langsung melon di kebun, belajar teknik budidaya, lalu menikmati olahan melon segar di saung petani. Potensi ini sangat relevan dengan konsep wellness and gastronomy tourism yang sedang didorong Pemda Lombok Tengah.

Ketiga disini ada Kerajinan Tangan dan Ekonomi Kreatif. Selain tembakau dan melon, Ganti juga mengembangkan spot wisata kerajinan tangan berbasis bahan lokal. Produknya bukan sekadar suvenir, tapi bagian dari paket wisata edukasi yang bisa dibeli wisatawan sebagai buah tangan.

Kemudian mengenai relevansi Desa Wisata Ganti Menjelang MotoGP Mandalika 2026 jelas ada,” aku Jasmawadi. Dengan jadwal MotoGP Mandalika 2026 yang akan digelar pada 9 sd 11 Oktober mendatang, bertepatan dengan HUT Kabupaten Lombok Tengah pada 15 Oktober, Desa Wisata Ganti berada pada posisi strategis sebagai desa penyangga timur Lombok Tengah dan kami sudah siap menyambutnya.

Jika desa wisata di lingkar Mandalika menawarkan pantai, maka Ganti menawarkan alternatif ketenangan, edukasi budaya, dan agrowisata yang otentik. Ini yang dicari segmen wisatawan premium dan keluarga yang ingin menghindari keramaian sirkuit.

Dengan luas 1.512 hektare, jumlah dusun yang tersebar, dan basis pertanian yang kuat, Ganti memiliki semua prasyarat untuk menjadi paket wisata regional, nasional, bahkan internasional paket one day tour budaya – agrikultur – kuliner,” jelas Jasmawadi.

Di tengah banyaknya desa wisata di 12 kecamatan se-Lombok Tengah yang diakui Dinas Pariwisata ada yang jalan di tempat, ada yang baru merintis berkembang dan terlihat maju namun Desa Wisata Ganti memberi pelajaran penting, desa wisata tidak akan mati jika dikelola dengan ide, bukan hanya menunggu program dari pusat, eksistensi adalah soal kreasi. Dan Desa Wisata Ganti sudah membuktikannya,” kata Jasmawadi bangga. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *