NTB EXPOSE. LOMBOK TENGAH — Deru mesin MotoGP 2026 di Pertamina Mandalika International Circuit masih beberapa bulan lagi, tapi geliat persiapannya sudah terasa sampai ke desa-desa. Salah satunya di Desa Puyung, Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah, NTB.
Dengan luas sekitar 630 hektare, desa ini tak mau hanya jadi penonton. Puyung menyiapkan diri sebagai salah satu desa penyangga yang menawarkan lebih dari sekadar tempat singgah. Kuliner, budaya, wisata edukasi, hingga alam dikemas untuk menyambut ribuan wisatawan yang diprediksi memadati Lombok Tengah saat event internasional itu berlangsung.
“Posisi kita strategis, berada di episentrum Kabupaten Lombok Tengah. Karena itu kita ingin ikut menyukseskan MotoGP bukan hanya dengan nonton, tapi dengan kegiatan-kegiatan pendukungnya. Kuliner kita, wisata kita, termasuk penginapan,” ujar Kepala Desa Puyung, Farhan Hadi, SE, saat ditemui di kantornya, Kamis (10/9/2026).
Nama Puyung sebenarnya sudah lebih dulu melambung. Pada 2022 desa ini masuk dalam 300 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia atau ADWI. Masuknya Puyung ke daftar nasional itu menjadi titik balik.
Sejak itu, pemerintah desa bersama masyarakat mulai membenahi potensi yang ada. Bukan membangun dari nol, melainkan menguatkan apa yang sudah jadi identitas Puyung selama ini.
Kekuatan pertama tentu kuliner. Siapa yang tak kenal Nasi Balap Puyung? Seporsi nasi dengan ayam suwir, sambal, dan taburan kacang itu sudah jadi ikon Lombok. Tapi Farhan bilang, Pemdes tidak ingin berhenti di satu menu.
“Kami terus dorong pelaku usaha untuk menjaga cita rasa sekaligus berinovasi. Sekarang di lapak kuliner sudah ada varian nasi yang berbeda. Tujuannya supaya wisatawan punya alasan untuk datang lagi,” jelasnya.
Selain perut, Puyung juga menyiapkan “makanan” untuk pikiran dan pengalaman. Salah satu yang sedang dikuatkan adalah Wayang Sasak.
Pemdes menggandeng Politeknik Pariwisata Lombok untuk mendokumentasikan sejarah Wayang Sasak. Hasilnya tidak hanya berupa naskah, tapi juga bahan referensi elektronik yang bisa dipakai pemandu wisata saat membawa tamu.
“Wayang Sasak ini warisan. Kalau hanya disimpan, dia akan mati. Jadi kita hidupkan lewat wisata budaya,” kata Farhan.
Wisata edukasi juga jadi fokus. Di Puyung, wisatawan bisa belajar langsung proses pembuatan kompos, pembuatan tahu-tempe, hingga melihat aktivitas pertanian warga. Ada pula destinasi alam seperti Kolam Renang Taman Daye yang berada di kawasan Dusun Bunbao dan Dusun Lingkung. Tempat ini diproyeksikan jadi lokasi istirahat keluarga yang datang untuk MotoGP dan ingin suasana lebih santai.
Farhan menyadari, tanpa ekonomi masyarakat yang kuat, pariwisata tidak akan berjalan. Karena itu pembinaan UMKM dilakukan bertahap dan sistematis.
Tahun 2023 dimulai dari pemetaan potensi dan pembentukan kelompok. 2024 masuk pelatihan produksi. 2025 fokus ke penguatan pemasaran dan digital marketing. Dan di 2026, Pemdes membantu pelaku usaha mengurus sertifikasi halal dan PIRT agar produk Puyung bisa menjangkau pasar lebih luas, termasuk para wisatawan mancanegara.
“Sekarang kami imbau UMKM untuk bersiap. Siapkan produk, rapikan tempat usaha, jaga kebersihan, dan yang paling penting layani pengunjung dengan baik. Itu prioritas kami,” tegas Farhan.
Bagi Farhan, pengembangan Desa Wisata Puyung bukan semata-mata untuk mengejar kunjungan saat MotoGP. Tujuan utamanya memastikan masyarakat Puyung sendiri yang menjadi tuan rumah dan merasakan manfaatnya secara langsung.
Dengan kombinasi kuliner legendaris, budaya Wayang Sasak, wisata edukasi, alam, dan UMKM yang terus naik kelas, Puyung ingin menunjukkan identitasnya sebagai desa wisata yang utuh.
“MotoGP ini momentum. Tapi setelah itu, kami ingin wisatawan tetap ingat Puyung. Bukan hanya karena dekat sirkuit, tapi karena ada pengalaman yang tidak mereka dapat di tempat lain,” tutupnya.
Kini, sambil menanti bendera start dikibarkan di Mandalika, Desa Puyung terus berbenah. Dari dapur nasi balap yang mengepul, sanggar Wayang Sasak yang mulai aktif lagi, hingga lapak-lapak UMKM yang bersiap digital. Semua diarahkan pada satu tujuan: membuat Puyung bukan hanya dilewati, tapi layak untuk dituju.(*/Ntbexpose 04)



