Sambut MotoGP 2026, Reuni 37 Tahun SSEAYP di Lombok Tengah Jadi Momentum Diplomasi Pariwisata

LOMBOK TENGAH, NTB EXPOSE- Di tengah hitungan mundur menuju MotoGP 2026 di Sirkuit Internasional Mandalika, Lombok Tengah mendapat panggung internasional lebih awal. Bukan dari deru mesin, tapi dari diplomasi pariwisata.

Reuni ke-37 ASEAN-Japan Ship for Southeast Asian and Japanese Youth Program (SSEAYP) Angkatan 89 yang mulai digelar 4-7 September 2026 lalu di Lombok Tengah dengan mengunjungi Sade Village Rembitan Kecamatan Pujut Kabupaten Lombok Tengah NTB hingga memberikan donasi setelah musibah Kebakaran, hal itu menjadi pembuka yang ideal. Sekitar 200 alumni dari 11 negara ASEAN dan Jepang hadir, menjelajahi Lombok Tengah sebagai destinasi yang otentik, siap menyambut dunia.

Jika MotoGP adalah puncak keramaian, reuni ini adalah fondasi nilai. Jika MotoGP mendatangkan volume, SSEAYP membangun persepsi jangka panjang.

Kegiatan yang dioperatori PT Mutiara Indonesia Holiday ini dirancang untuk menunjukkan bahwa Lombok Tengah lebih dari sekadar sirkuit.

“Reuni ini kami posisikan sebagai pemanasan berkelas untuk MotoGP 2026. Kita ingin dunia melihat, sebelum mereka datang untuk balapan, bahwa Lombok Tengah punya cerita yang lebih dalam dari sekadar sirkuit. Ini adalah soft investment untuk menyambut MotoGP dengan kualitas, bukan hanya keramaian,” ujar pelaku pariwisata Lombok Tengah sekaligus enjadi operator kegiatan, Edwin Cahyono kepada NTB Expose, baru-baru ini.

Dari Sirkuit MotoGP Mandalika ke Desa Adat, dari Mandalika ke Gili. Itinerary peserta memang sengaja dirancang mengitari ekosistem pariwisata Lombok Tengah dan sekitar pulau Lombok.

Rangkaian dimulai 3 September dengan menginap di Hotel Aruna Senggigi. Pada 4 September, peserta ke Lombok Tengah mengunjungi Kampung Adat Ende untuk melihat tenun Sasak yang autentik, lalu menuju jantung KEK Mandalika. Pantai Kuta Mandalika dan Sirkuit Internasional Mandalika dan beberapa lokasi lainnya.

Kunjungan ke sirkuit menjadi momen kunci. Para alumni melihat langsung kesiapan infrastruktur Lombok Tengah menyambut MotoGP 2026. Dari paddock hingga garis pantai, mereka menangkap pesan bahwa Mandalika siap secara global tapi tetap berakar lokal.

Perjalanan berlanjut 5 September ke Gili Trawangan menggunakan private fast boat dari Pelabuhan Bangsal. Sebelumnya, digelar bakti sosial di masjid di Kecamatan Pemenang bersama anak yatim piatu, menegaskan prinsip pariwisata yang berbagi. Peserta kemudian bermalam di Santorini Bungalow Gili Trawangan.

Pada 6 September, setelah kembali dari Gili dan menikmati makan siang Ayam Taliwang, peserta menyusuri Kota Tua Ampenan di Mataram dengan odong-odong, ditutup dengan makan malam di Tanjung Bias, Meninting. Pada 7 September, peserta kembali ke negara masing-masing.

Edwin menegaskan, momentum MotoGP 2026 harus dimaknai lebih dari sekadar event tahunan. Lombok Tengah tidak boleh dijual sebagai Bali Kedua, melainkan sebagai tuan rumah dunia dengan identitas sendiri yang mengakar dengan kultur budaya yang kuat dan kental kearifan lokal yang Konstruktif.

Budaya Sasak yang kuat, wisata halal yang ramah keluarga, hingga community-based tourism di desa penyangga Mandalika adalah pembeda yang justru dicari pasar regional.

“Bagi Jepang, Lombok Tengah adalah heritage dan wellness. Bagi Malaysia-Brunei, ini surga wisata halal. Bagi Singapura, ini premium short escape dan MICE. Mereka semua adalah pasar yang sama yang akan datang untuk MotoGP. Jika mereka jatuh cinta sekarang pada budayanya, mereka akan kembali lagi, tinggal lebih lama, dan belanja lebih banyak saat MotoGP,” jelasnya.

Menurut Edwin, reuni ini memberikan tiga kontribusi langsung bagi kemajuan pariwisata Lombok Tengah dalam menyambut MotoGP 2026

Pertama Kontribusi Promosi, 200 alumni adalah 200 influencer organik di 11 negara. Konten mereka tentang keramahan Sasak, keindahan Kuta Mandalika, dan kemegahan sirkuit adalah promosi paling jujur dan gratis jelang MotoGP, jauh melampaui iklan.

Kedua Kontribusi Ekonomi, Reuni ini menguji dan menghidupkan rantai pasok pariwisata, dari hotel di Senggigi, homestay di Gili, restoran Taliwang, hingga odong-odong di Ampenan. Ini simulasi nyata distribusi ekonomi MotoGP agar tidak hanya terpusat di dalam sirkuit, tapi mengalir ke masyarakat.

Ketiga Kontribusi Keberlanjutan, Menjadikan Lombok Tengah laboratorium pariwisata berbasis masyarakat. Model di mana warga desa adat Ende dan warga pesisir menjadi pelaku utama, bukan penonton, adalah model pariwisata yang ingin ditampilkan Indonesia kepada dunia saat MotoGP 2026 berlangsung.

“Deru MotoGP hanya tiga hari. Tapi kesan tentang Lombok Tengah harus bertahan seumur hidup. Reuni ini adalah pernyataan bahwa kami siap menyambut MotoGP 2026 bukan dengan adu volume penonton, tapi dengan adu nilai. Ketika tamu pulang membawa sebagian jiwa Sasak, maka pariwisata kita telah menang,” pungkas Edwin.(*/Ntbexpose/04)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *