Jika Mandalika punya Sirkuit MotoGP, Desa wisata Bonjeruk punya cerita yang berbeda sebagai penyangga.
Di Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah, sebuah desa seluas 591,72 hektare ini tidak sekadar menawarkan pemandangan sawah. Ia menyimpan nadi sejarah Lombok Tengah itu sendiri.
Setelah dicetuskan oleh inisiator pendiri penggagas dan yang membidani kelahiran Bonjeruk sebagai desa wisata kemudian ditetapkan sebagai desa wisata sejak 2019, nama Bonjeruk melejit secara nasional setelah masuk dalam 50 Besar Desa Wisata Terbaik Indonesia pada ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2021 Kemenparekraf, sekaligus meraih Juara 4 Kategori Desa Digital. Capaian itu bukan kebetulan. Bonjeruk memadukan apa yang tidak dimiliki desa lain, sejarah kolonial yang kokoh, budaya yang masih hidup, alam yang subur, dan kuliner yang menggugah.
Gedeng Beleq, Salah satu saksi Bisu lahirnya Lombok Tengah. Berjalan ke jantung Desa Bonjeruk, anda akan langsung bertemu bangunan besar yang masih berdiri tegak meski usianya hampir seabad, Gedeng Beleq di sisi timur kantor desa, ada lagi bangunan bersejarah yang disebut warga sebagai Bangunan Bok di Bat Peken Timuk terletak disebelah barat Puskesmas Bonjeruk.
Dua bangunan peninggalan era kolonial Belanda ini bukan sekadar tembok tua. Gdeng Beleq awalnya merupakan pusat pemerintahan pada masa awal terbentuknya Lombok Tengah. Dari sinilah Bupati pertama Lombok Tengah, Lalu Serinata yang akrab disapa Raden Obris, menjalankan roda pemerintahan.
“Arsitekturnya masih asli, temboknya masih sangat kokoh ada sedikit renovasi. Walaupun tidak dirawat secara khusus oleh pemerintah pusat atau daerah, kami dari pemerintah desa terus mensosialisasikan kepada masyarakat untuk bersama-sama menjaganya,” kata Kepala Desa Bonjeruk, L. Audia Rahman, SH, saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (23/9/2026).
Bagi Bonjeruk, merawat Gedeng Beleq berarti merawat identitas. Konsep yang dikembangkan bukan wisata sejarah yang kaku di dalam museum, melainkan wisata sejarah yang hidup. Wisatawan diajak bersepeda menyusuri gang desa, berhenti di Gedeng Beleq untuk mendengar kisah Raden Obris, lalu melanjutkan ke Bale-Bale warga untuk mendengarkan pembacaan lontar, bermain gangsing dan egrang bersama anak-anak desa.
Selain itu dari sawah subur menuju Agrowisata dan wisata Pemancingan. Karakter agraris Bonjeruk adalah modal keduanya. Hamparan sawah yang subur, sistem pengairan yang melimpah sepanjang tahun, dan kesadaran masyarakat menjaga lingkungan membuat desa ini ideal untuk agrowisata dan wellness tourism.
Camat Jonggat, Hj. Lale Anys Fajriani, AP., M.Si., melihat potensi ini lebih jauh. Menurutnya, Bonjeruk bisa dikembangkan menjadi destinasi wellness tourism, wisata kebugaran yang memadukan bersepeda keliling desa, menikmati jamu dan minuman herbal tradisional, kuliner sehat, hingga ruang relaksasi di tengah sawah.
Dan ada satu potensi yang belum banyak dilirik yakni wisata pemancingan. Dengan debit air yang melimpah dan stabil sepanjang tahun, serta banyaknya embung atau kolam masyarakat, saluran irigasi besar, dan lahan perkebunan yang terintegrasi dengan budidaya kolam ikan, Bonjeruk sangat potensial menjadi kawasan wisata pemancingan berbasis masyarakat. Konsepnya bukan kolam pemancingan buatan yang mahal, tapi pemancingan alami di area persawahan dan embung desa, dipadukan dengan kuliner hasil pancingan yang langsung dimasak, cocking class di spot wisata setempat.
Potensi alam lain seperti kawasan Dusun Loang Tune dan Tebing Purba juga sedang disiapkan menjadi spot wisata alam dan edukasi geologi. Namun pengembangannya masih terkendala anggaran.
“Kami sudah pernah mengajukan proposal dan sempat mendapat informasi akan ada dukungan anggaran sekitar Rp3,7 miliar untuk pembenahan akses. Kami sangat berharap ada perhatian agar potensi ini bisa digarap maksimal,” harap Kades Audia Rahman.
Kuliner Sebagai Pintu Masuk. Jika sejarah adalah jiwanya, maka kuliner adalah pintu masuknya. Bonjeruk tidak kekurangan cerita rasa. Ada ayam merangkat, ayam kampung dengan bumbu meresap yang menjadi ikon, ada Sate Kuncung yang unik, dan Bebek Serundeng yang gurih. Semua bisa dinikmati didesa wisata Bonjeruk
Di sini, wisatawan tidak hanya makan. Mereka diajak cooking class, memetik bahan langsung dari kebun warga, lalu memasaknya bersama ibu-ibu PKK. Sebuah pengalaman wisata berbasis masyarakat yang sesungguhnya.
Untuk menjaga kualitas, Pemdes Bonjeruk rutin menggelar pelatihan SDM pariwisata dan pemberdayaan UMKM. Tujuannya jelas, agar pariwisata benar-benar memberikan manfaat ekonomi langsung ke warga, bukan hanya menjadi tontonan.
Menjelang keramaian MotoGP di Sirkuit Mandalika 2026 yang jatuh pada tanggal 9 sd 11 Oktober dan HUT Kabupaten Lombok Tengah pada tanggal 15 Oktober mendatang, pesan Kades sederhana, jaga keamanan, kebersihan, dan keramahan. Karena pada akhirnya, yang membuat wisatawan kembali bukan hanya Gedeng Beleq yang kokoh, tapi senyum warga Bonjeruk yang menyambutnya.
Desa ini tidak butuh dibuat-buat menjadi modern. Bonjeruk hanya butuh dirawat agar tetap menjadi dirinya sendiri, desa tua yang hidup, subur, dan mengenyangkan – dari sejarahnya, alamnya, hingga kulinernya dan berakhir di kolam pemancingan warga.(*)







