Foto diatas : Azwar Hamdi bersama Gubernur NTB L. Muhammad Iqbal saat menghadiri Festival Mobok Balang di Desa Wisata Tanak Beak.
Di saat Mandalika bersiap menyambut deru MotoGP 2026, sebuah desa di utara Lombok Tengah justru menyiapkan senjata lain, durian lokal rasa mentega, Peken Balang, dan jejak letusan Samalas.
Jika Sirkuit Mandalika adalah panggung utama, maka desa-desa penyangga adalah dapur yang memastikan perhelatan itu mengenyangkan semua orang. Salah satu dapur yang paling siap itu kini ada di utara, Desa Wisata Tanak Beak, Kecamatan Batukliang Utara.
Menjelang MotoGP 2026, logika pariwisata Lombok Tengah mulai berubah. Tidak lagi semua wisatawan harus menumpuk di selatan. Dinas Pariwisata Lombok Tengah kini secara serius menata desa-desa wisata di wilayah utara sebagai penyeimbang, sebagai tempat jeda, sebagai paket wisata kedua setelah balapan usai. Dan Tanak Beak menjadi salah satu etalase paling lengkap dari strategi itu.
Apa yang ditawarkan Tanak Beak ? Bukan pantai. Melainkan sesuatu yang justru dicari wisatawan dunia setelah lelah dengan kebisingan sirkuit, kesejukan, pengalaman otentik, dan rasa.
Di desa inilah transformasi senyap itu terjadi, Pemanfaatan Lahan Pekarangan dan Perkebunan.
Revolusi Pekarangan Kebun Durian Musang King hingga Durian Rasa Mentega. Dulu, banyak lahan pekarangan warga Tanak Beak dibiarkan kosong. Kini, hampir setiap jengkal tanah diubah menjadi kebun produktif. Warga menanam durian.
Bukan sekadar durian biasa. Di sini, varietas unggulan dunia seperti Musang King, Duri Hitam atau Ochi merupakan klon Malaysia sudah banyak menyebar sampai pelosok, hingga Montong, Kane tumbuh berdampingan dengan kebanggaan sejati desa Durian Lokal Tanak Beak.
Durian lokal ini menjadi primadona baru. Menurut warga, karakter rasanya sangat khas lembut, legit, dengan sensasi rasa seperti mentega yang lumer di mulut. Inilah aset genetik yang tidak dimiliki daerah lain.
“Kami tidak ingin hanya mengejar varietas luar. Durian lokal rasa mentega ini adalah identitas kami. Ini harus kami lestarikan dan kami jual sebagai cerita,” ujar Azwar Hamdi, Ketua Pokdarwis Geowisata Samalas Desa Wisata Tanak Beak Kecamatan Batukliang Utara Kabupaten Lombok Tengah, kepada media baru-baru ini
Gerakan ini lebih dari sekadar bertani. Ini adalah ekonomi hijau berbasis keluarga. Ketika musim panen tiba, pekarangan rumah berubah menjadi sumber pendapatan tambahan. Buahnya dijual segar, ke depan akan diolah menjadi dodol durian, kopi durian, hingga es krim durian khas Tanak Beak oleh UMKM desa.
Skenario MotoGP 2026, Wisata Petik Durian Setelah Nonton Balap. Inilah yang membuat Tanak Beak relevan dengan MotoGP 2026.
Dinas Pariwisata Lombok Tengah kini mendorong konsep “Wisata Sehari Setelah MotoGP”. Bayangkan, wisatawan menonton balapan di Mandalika, lalu esok harinya mereka tidak langsung pulang. Mereka diajak naik ke utara, menghirup udara kaki Gunung Rinjani, dan masuk ke kebun durian warga.
Konsep “Wisata Durian Tanak Beak” pun dirancang. Wisatawan tidak hanya makan, tapi mengalami. Mulai dari edukasi cara okulasi bibit, cara perawatan, hingga pengalaman wisata petik buah langsung dari pohonnya. Kebun durian menjadi kelas alam terbuka.
Ini sangat sejalan dengan program Penghijauan pekarangan dengan pohon durian berarti menjaga tutupan lahan, penyerapan karbon, dan ketahanan pangan. Produktif dan lestari,” ujar Azwar.
Selain itu ada juga Paket Lengkap Desa Wisata Tanak Beak yakni spot wisata Peken Balang, Samalas, dan Air Terjun. Kekuatan Tanak Beak tidak berdiri sendiri. Pengembangan durian ini sengaja diintegrasikan dengan dua magnet wisata desa yang sudah ada.
Pertama, Pasar Kuliner Tradisional Peken Balang. Pasar yang hanya buka seminggu sekali ini menyajikan kuliner tradisional Sasak yang otentik. Bagi wisatawan MotoGP nantinya bisa sarapan dengan bubur, serabi, dan jaje Sasak di Peken Balang, lalu siang harinya makan durian di kebun. Sebelumnya pada bulan Agustus lalu kami juga mengadakan Festival Mobok Balang yang dihadiri HL. Muhammad Iqbal Gubernur NTB,” aku Azwar bangga.
Diketahui Festival Mobok Balang merupakan kegiatan budaya masyarakat Sasak yang mengangkat tradisi menangkap belalang pada malam hari bersama warga masyarakat dengan menggunakan alat-alat penerangan berupa obor, Lobakan, pemontot, dan lain sebagainya sebagai warisan kearifan lokal sekaligus menjadi ruang kebersamaan masyarakat. Festival ini tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga memberikan dampak nyata pada berbagai aspek kehidupan masyarakat, termasuk mengangkat perputaran ekonomi masyarakat melalui UMKM,” terang Azwar.
Kedua, Jejak Letusan Gunung Samalas. Secara geologi, kawasan Tanak Beak berada di jalur sejarah letusan dahsyat Samalas tahun 1257 yang mengubah iklim dunia. Narasi geowisata ini sangat menarik bagi turis Eropa yang datang untuk MotoGP. Mereka tidak hanya dapat hiburan, tapi juga pengetahuan.
Ketiga, sebagai Gerbang Air Terjun Benang Kelambu dan Benang Stokel yang berlokasi di Desa Arik Berik, yang hanya berjarak beberapa menit dari desa Tanak Beak. Ini melengkapi paket, pagi di air terjun, siang di Peken Balang, sore petik durian,” tukas Azwar.
“Inilah cara Lombok Tengah menata pariwisata. Selatan punya sirkuit kelas dunia, utara punya desa wisata kelas dunia. Kami ingin pemerataan. Dampak MotoGP harus dirasakan sampai ke kebun-kebun durian warga di Batukliang Utara,” jelas Lalu Sapta Setiawan yang merupakan pegiat Pariwisata Lombok Tengah sekaligus sebagai ketua Pokdarwis NTB.
Strategi ini cerdas. Saat akomodasi di Mandalika penuh dan mahal saat MotoGP 2026, homestay-homestay di Tanak Beak dan juga desa wisata lainnya diwilayah Utara yang telah dibina bisa menjadi alternatif menginap yang sejuk dan murah. Perputaran uang pun menyebar,” pungkas Lalu Sapta.
Tanak Beak hari ini sedang membuktikan sebuah filosofi sederhana yang mereka pegang teguh. Dari lahan pekarangan menjadi kebun produktif, dari hasil kebun menjadi sumber ekonomi, dan dari potensi lokal menjadi kekuatan desa.
Jika dulu orang mengenal Lombok Tengah hanya dari Mandalika, maka mulai 2026, mereka akan mengenalnya juga dari rasa legit Durian Mentega di sebuah desa asri di utaranya. Lestarikan Alam, Kembangkan Pertanian, Pertahankan Durian Lokal, Hidupkan Wisata, dan Perkuat Ekonomi Masyarakat Tanak Beak,” tutup Azwar.(*)








