Tradisi NU sebagai Benteng Radikalisme Keagamaan di NTB

Oleh : Dr. Lalu Indar Anggra Putra, M.Pd.

Nusa Tenggara Barat (NTB) dikenal luas sebagai Pulau Seribu Masjid, sebuah simbol kuatnya kehidupan religius masyarakat. Namun, tingginya intensitas aktivitas keagamaan juga menjadikan NTB sebagai ruang yang potensial bagi kontestasi berbagai paham keislaman, termasuk ideologi radikalisme keagamaan. Di tengah dinamika tersebut, Nahdlatul Ulama (NU) memainkan peran penting melalui tradisi keagamaannya yang berfungsi sebagai benteng kultural dalam menjaga Islam yang moderat dan inklusif.

Radikalisme dan Ruang Sosial Keagamaan

Radikalisme keagamaan umumnya tumbuh subur di ruang sosial yang kosong dari otoritas keilmuan dan ikatan sosial. Paham ini sering hadir dengan narasi keagamaan yang simplistik, tekstual, dan eksklusif, serta menolak tradisi dan perbedaan. Di wilayah dengan kehidupan keagamaan yang intens seperti NTB, radikalisme dapat dengan mudah menyusup apabila ruang-ruang keagamaan tidak dikelola secara bijak.

NU memahami bahwa penanggulangan radikalisme tidak cukup dilakukan melalui pendekatan keamanan atau hukum semata. Yang lebih penting adalah membangun ketahanan sosial dan kultural umat melalui praktik keagamaan yang sehat dan membumi.

Tradisi NU: Lebih dari Sekadar Ritual

Tradisi keagamaan NU seperti tahlilan, maulidan, yasinan, hiziban, istighotsah, dan ziarah makam ulama sering kali dipahami sebatas ritual. Padahal, di balik praktik tersebut terdapat fungsi sosial yang strategis. Tradisi NU membangun ruang perjumpaan kolektif yang egaliter, memperkuat solidaritas sosial, serta meneguhkan otoritas ulama lokal.

Dalam konteks NTB, tradisi ini hidup di masjid, musala, dan rumah warga, sehingga menciptakan jaringan sosial yang rapat. Jaringan inilah yang menjadi penghalang masuknya narasi radikal yang cenderung memecah belah dan mengasingkan umat dari lingkungannya.

Tradisi sebagai Mekanisme Moderasi

Tradisi NU bekerja sebagai mekanisme moderasi beragama. Melalui ritual kolektif, umat dibiasakan pada kebersamaan, kesabaran, dan penghargaan terhadap perbedaan. Tidak ada klaim kebenaran tunggal yang menafikan yang lain. Sebaliknya, tradisi menanamkan kesadaran bahwa keberagamaan adalah proses sosial yang sarat nilai kemanusiaan.

Di NTB, tradisi keagamaan NU juga berfungsi menjaga masjid tetap menjadi ruang publik yang ramah. Masjid tidak mudah dikuasai oleh kelompok dengan ideologi keagamaan eksklusif karena telah memiliki pola aktivitas yang mapan dan diterima oleh masyarakat.

Peran Tuan Guru dan Pesantren NU

Keberhasilan tradisi NU sebagai benteng radikalisme di NTB tidak dapat dilepaskan dari peran Tuan Guru dan pesantren NU. Tuan Guru bukan hanya pemimpin ritual, tetapi juga penjaga otoritas keagamaan dan moral masyarakat. Melalui pengajian dan pendidikan pesantren, nilai-nilai Aswaja an-Nahdliyah ditanamkan secara berkelanjutan.

Pesantren NU berperan sebagai ruang kaderisasi ulama yang memiliki pemahaman agama yang mendalam, kontekstual, dan berwawasan kebangsaan. Sanad keilmuan yang jelas menjadi filter terhadap ideologi keagamaan instan yang sering kali menjadi pintu masuk radikalisme.

Tradisi, Kebangsaan, dan Islam Damai

Tradisi NU di NTB tidak berdiri sendiri, tetapi terhubung erat dengan nilai kebangsaan. Prinsip hubbul wathan minal iman diinternalisasikan melalui kegiatan keagamaan yang mengajarkan cinta tanah air dan tanggung jawab sosial. Dengan demikian, Islam dipraktikkan sebagai kekuatan pemersatu, bukan sumber konflik.

Pendekatan ini menjadikan NU sebagai mitra strategis negara dalam menjaga stabilitas sosial dan keutuhan NKRI, tanpa harus kehilangan independensi kulturalnya.

Tantangan Era Digital

Meski memiliki daya tahan kultural yang kuat, tradisi NU di NTB menghadapi tantangan besar di era digital. Narasi keagamaan radikal menyebar cepat melalui media sosial, sering kali lebih menarik bagi generasi muda. Jika tradisi hanya dipertahankan secara seremonial tanpa pemaknaan, ia berisiko ditinggalkan.

Oleh karena itu, diperlukan upaya reartikulasi tradisi, yakni menjelaskan makna, nilai, dan relevansi tradisi NU dalam bahasa dan medium yang dipahami generasi digital. Di sinilah peran pemuda NU menjadi sangat penting.

Penutup

Tradisi NU di NTB bukanlah praktik keagamaan yang usang, melainkan modal sosial yang efektif dalam menangkal radikalisme keagamaan. Melalui ritual kolektif, otoritas ulama, dan keterikatan sosial yang kuat, tradisi NU membangun ketahanan umat dari dalam. Di Pulau Seribu Masjid, tradisi NU membuktikan bahwa Islam yang ramah dan berakar justru menjadi benteng paling kokoh bagi perdamaian dan kebersamaan.(*)

Penulis adalah kader Muda NU

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *