NTB EXPOSE. Lombok Tengah – Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Tengah untuk memudahkan dalam memberikan pelayanan kesehatan yang terbaik kepada masyarakat telah menerapkan sistim Integrasi Layanan Primer ( ILP ) atau layanan yang terintegrasi satu sama lainnya di setiap bidang,” ungkap Kepala Dinas Kesehatan kepada wartawan baru baru ini melalui petugas yang menangani Promosi Kesehatan ( Promkes ) dibidang Kesmas, Al Muslim SKM M.Kes.
Dikatakannya, layanan yang terintegrasi di Promkes sekarang ini laporannya semua serba online. Walaupun serba online ada juga plus minusnya, tapi yang terpenting jaringan yang relatif bagus, terkecuali jaringan pelaporan di puskesmas Awang Desa Mertak Kecamatan Pujut agak lelet, kita tidak tahu penyebabnya, mungkin bisa juga karena jauh dan agak terpencil.
Pelaporan pelaporan yang kami terima dari aplikasi semuanya tergantung jaringan. Kalau dulu selain di Puskesmas Awang yang agak kurang bagus jaringannya yakni Puskesmas Batujangkih, tapi sekarang alhamdulillah sudah cukup bagus,” kata Al Muslim.
Dijelaskannya, saat ini semua data informasi kita input dari 29 puskesmas yang tersebar di seluruh wilayah kecamatan di Kabupaten Lombok Tengah. Dicontohkannya, pertama untuk rekam medic E-program saja sekarang secara online, sekarang tidak ada yang bawa bawa resep rekam medis, semuanya terkoneksi serba online diruangan kerja masing masing.
Kedua, sekarang ini menurut Al Muslim, terlalu banyak aplikasi disetiap puskesmas, hampir semua program-program yang berbeda semuanya pakai aplikasi, itu juga merupakan salah satu kendala atau plus minus dari program online tersebut. Misalnya sudah ada di aplikasi yang dipakai, begitu ada aplikasi berbeda lainnya lalu di pakai lagi, nah jni yang membuat agak kurang efektif kalau terlalu banyak aplikasi.
Ditanya terkait efektifnya pakai satu aplikasi atau lebih, pak Muslim mengatakan, memang untuk penggunaan aplikasi target di pusat akan diminimalisir atau akan diseragamkan, hal itu untuk memudahkan pekerjaan satu sama lainnya.
Adapun cara mengintegrasikan program program yang ada di promkes ini, kami sebetulnya lebih mengarah ke edukasi. Permasalahan yang ada di masing masing bidang misalnya, terkait dengan penanganan stunting kami berkolaborasi dengan program kegiatan yang dilakukan di bidang bidang yang berbeda. Misalnya untuk di KIA ada kelas ibu hami atau ada Germas ibu hamilnya, kami lalu diundang untuk bersama sama turun ke lapangan, begitu juga dengan program program lainnya tidak jauh berbeda.
Terkait dibidang lain misalnya pada pengendalian penyakit di Bidang P3KL kita juga dilibatkan dan terkoneksi satu sama lainnya terutama yang di level puskesmas. Dengan istilah terintegrasi sekarang ini tidak ada namanya program A atau program B. Misalnya ada ibu hamil, kalau dulu cenderung ke Bidang. Tapi kalau sekarang di pelayanan integrasi yang jadi patokan adalah ” apa pelayanan yang harus didapatkan, jadi semua program yang masuk ke integrasinya,” kata Muslim.
Sama dengan yang di gizi misalnya, kalau sasarannya bayi balita, standar wajibnya harus diterima oleh balita tersebut. kan tidak harus gizi saja yang didapatkan tapi program lainnya juga ada disitu, misalnya imunisasi, kesling atau kesehatan lingkungan beserta perbaikan lingkungannya juga masuk.
Dalam nomenklaturnya juga berubah kalau dulu tertulis program tapi sekarang menjadi pelayanan. Jadi intinya pelayanan wajib yang diterima oleh kelompok umur itu semua bagian harus masuk, kalau dulu ada gizi ya berkutat di gizi saja, begitu juga dengan KIA dan lain sebagainya walaupun ada istilah integrasi tapi tidak serapi dan tertata baik seperti sekarang ini,”imbuh Al Muslim. (Ntbexpose/03)






