NTB EXPOSE. Lombok Tengah- Hadir pada acara Pameran Keris dan Bursa Tosan Aji Nusantara di Bencingah Agung Adiguna Alun-alun Tastura Praya, sabtu-senin ( 19-21/03/22 ). Bupati Lombok Tengah HL. Pathul Bahri beri apresiasi dan komitmen penuh dukung upaya pelestarian keris dan berbagai jenis tosan aji lainnya menjadi wahana ekonomi baru berbasis budaya seperti yang diupayakan oleh paguyuban keris Tangguh Trasna dan Paseban Sasak Adi.
Bertajuk ” Gugah Keris Gumi Sasak “, Sukirman selaku Ketua paguyuban keris Tangguh Trasna sekaligus panitia penyelenggara mengungkapkan tekadnya untuk bisa mengeksplore keberadaan kekayaan khazanah budaya Lombok agar lebih dikenal khalayak.
” Kita punya banyak peninggalan benda pusaka, hampir tiap Desa ada, perlu di publis melalui semacam pameran untuk menunjukkan identitas kita, ” Katanya.
Disebutkan, Desa-desa yang berpartisipasi dipameran antara lain dari Ranggegate, Darek, Mantang, Pujut, Praya, Rambitan, dan Sade.
Menariknya, pada kesempatan itu, pusaka warisan milik Bupati juga turut dipamerkan berupa keris jenis dapur sempane berpamor patikan. Diperhatikan menurut tangguhnya, perkiraan berusia sangat tua bersamaan dengan era majapahit.
Kepada pengunjung, diberikan edukasi. Terdapat beberapa dapur yang diperkenalkan seperti dapur simbol atau motif, ganesa, pedang, cerite lanang, sempane dengan aneka varian pamor.
Pesertanya sampai luar daerah asal Madura, Bali, Jogja, Surabaya, dan Ponorogo berjumlah 32 meja.
” Nilai transaksi selama tiga hari cukup fantastis capai 2 ratusan juta, ” paparnya.
Lalu Sofiyar Putrangga Muncar, Pembina sekaligus Ketua Paseban Sasak Adi ( Pasaka ) menambahkan, keberadaan keris dinilai sangat penting sebagai salah satu aspek kebudayaan dari leluhur, sehingga dibuat program khusus berwadah pameran agar tetap eksis.
” Dulu keris itu layaknya KTP sebagai identitas menunjukkan pangkat, golongan bahkan harga diri seseorang, ” ujarnya.
Namun, seiring perubahan zaman, lanjut Miq Sofiyar, pemanfaatan keris semakin kompleks. Jika dimasa lalu digunakan berperang, sekarang lebih dominan untuk kegaiatan-kegiatan seremonial seperti nyongkolan, sorong serah dan sebagainya. Sehingga memicu potensi jual beli yang merangsang para pengrajin bisa berproduksi guna memenuhi kebutuhan masyarakat beradat budaya.
” Kami telah siapkan pilot project untuk merangkul empu-empu yang ada di lombok, selain jadi wujud pelestarian dan menelurkan cinta budaya pada generasi juga dapat gerakkan ekonomi, ” jelasnya.
Kabid Kebudayaan Dinas Pariwisata Loteng, H. Jumadi menanggapi siap tindaklanjuti sesuai intruksi Bupati. Melalui sambungan telfon, ia mengaku akan melakukan pendataan terlebih dahulu mengenai jumlah paguyuban dan pengrajin. Barulah didiskusikan bersama bagaimana skema selanjutnya.
” Kedepan, kami sudah sepakat bersinergi, adakan pameran secara rutin dan gencarkan promosi, bahkan ditargetkan harus bisa tampil pada gelaran Moto GP selanjutnya di Mandalika agar tembus pasar internasional, ” Terangnya. ( irsyad )












