Dari Dapur Lombok ke Panggung Dunia 2 Bulan Setelahnya, Mandalika Street Food Festival Masih Bikin Ekonomi UMKM Bergerak

Sudah dua bulan berlalu sejak lampu-lampu tenda di Area Bazaar Mandalika dan Kuta Lane padam dikawasan pariwisata Kuta Mandalika Kabupaten Lombok Tengah. Tapi gaung Mandalika Street Food Festival 2026 yang digelar 10 sampai 12 Juli 2026 lalu masih terasa sampai bulan September ini.

Jumat malam itu pembukaannya dipotong pita oleh Gubernur NTB yang diwakili Kepala Dinas Pariwisata Provinsi NTB, Ahmad Nur Aulia. Di sampingnya berdiri jajaran Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah dan Dinas Pariwisata Lombok Tengah, sibuk menyambut tamu, mengecek tenant, memastikan festival berjalan rapi.

Kini, saat musim wisata September mulai ramai, dampaknya baru benar-benar terlihat.

Pemprov NTB menggagas festival ini untuk menguatkan The Mandalika sebagai destinasi berkelas dunia. Tapi yang membuat mesinnya hidup di lapangan adalah Pemda Lombok Tengah bersama Dispar Lombok Tengah.

Sejak Juni lalu, tim Dispar Lombok Tengah sudah turun. Mereka mendata pelaku kuliner, mengurus perizinan, menata zona tenant, sampai menggelar pelatihan penyajian dan kebersihan untuk 24 tenant kuliner dan restoran, 8 coffee shop dan roastery, serta 5 pelaku UMKM kriya dan wastra. Semua peserta adalah anak Lombok.

“Waktu Juli kami bilang panggungnya harus ramah untuk orang Lombok Tengah. Sekarang September, buktinya tenant-tenant itu masih kebanjiran pesanan online,” kata salah tamu wisata pekan ini.

Menu-menu yang dulu hanya dicicipi saat festival kini jadi incaran. Ayam Taliwang dengan plecing yang nendang, Sate Rembiga yang pedas khas, Sate Bulayak, Sate Tanjung, Nasi Balap, sampai jajanan tradisional warisan nenek, semuanya naik permintaan. Beberapa tenant bahkan sudah buka cabang kecil di area Kuta dan Sengkol.

Ahmad Nur Aulia saat pembukaan bilang festival ini adalah ruang promosi. Bagi Pemda Lombok Tengah, ini ruang pemberdayaan yang efeknya panjang.

Dispar Lombok Tengah saat itu menggandeng komunitas kreatif lokal. Ada Mandalika Arm Wrestling Competition, workshop dan fashion show wastra Lombok dengan motif baru yang lebih muda, live painting, face painting, mini games, dan panggung musik komunitas Lombok Tengah.

Dua bulan kemudian, kolaborasi itu lanjut. Komunitas penenun yang tampil Juli kini dapat pesanan seragam kantor dan souvenir hotel. Band-band lokal yang manggung dapat job tetap di cafe-cafe Mandalika.

“Kami ingin length of stay naik. Juli kemarin tamu betah 3 hari karena ada event. Sekarang September, hotel di kawasan Mandalika okupansinya masih di atas 70 persen di weekend. Ojek, toko oleh-oleh, semua ikut merasakan,” ujar Ahmad Nur Aulia kepada media belum lama ini.

Salah satu yang paling terasa sampai sekarang, semua tenant waktu itu wajib pakai QRIS. Itu hasil pendampingan Dispar Lombok Tengah bersama Bank NTB dan pengelola Kawasan The Mandalika.

Ibu Sari, penjual sate yang Juli lalu pamer HP-nya, sekarang sudah punya dua karyawan tambahan. “Sejak pakai QRIS, turis dari Jakarta sampai Australia langsung scan. Pembukuan jadi rapi. Bulan Agustus omzet naik hampir 40 persen dibanding Juni,” katanya saat ditemui di lapaknya di Kuta Lane, Minggu lalu.

Bagi Pemda Lombok Tengah, literasi digital ini yang bikin UMKM lokal bisa bersaing di destinasi internasional.

Festival Juli sengaja didekatkan dengan Pocari Sweat Run Lombok 2026. Tujuannya menciptakan efek berganda. Dan di September ini efeknya nyata.

Pelari datang, keluarga ikut, wisatawan kuliner mampir. Mereka makan, menginap, sewa motor, ke Pantai Kuta, beli kain tenun. Semua berputar di ekonomi Lombok Tengah.

Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah juga terus menjaga infrastruktur dasar, kebersihan, keamanan, rambu, dan koordinasi dengan desa-desa sekitar. Tanpa fondasi itu, event sebesar Juli lalu tidak akan punya dampak sepanjang ini.

Dua bulan setelah festival, satu hal yang ditegaskan lagi, pariwisata NTB tidak bisa hanya jual pemandangan. Kekuatannya ada di rasa, di cerita, di tangan UMKM yang tiap hari masak dan menenun.

Pemprov NTB memberi kebijakan dan promosi. Pemda Lombok Tengah dan Dispar Lombok Tengah jadi jembatan ke pelaku. Komunitas kreatif memberi warna. Pengelola kawasan memberi ruang.

“Ini bukan event satu kali. Ini ekosistem. Kalau ekosistemnya sehat, UMKM naik, budaya hidup, wisatawan datang lagi. Buktinya sudah kita lihat di September ini,” kata Ahmad Nur Aulia.

Malam Juli itu Kuta Lane berubah jadi ruang tamu terbesar milik Nusa Tenggara Barat. Dua bulan kemudian, ruang tamu itu pintunya masih terbuka. Tamunya terus datang. Tuan rumahnya tetap UMKM Lombok Tengah.(*/Rd)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *