Dua bulan setelah Pocari Sweat Run, Lombok Tengah masih merasakan getarnya. Pagi itu, 12 Juli 2026, sirene start berbunyi tepat pukul 05.30 WITA. Dari garis start di depan Pertamina Mandalika International Circuit, 9.200 pasang kaki menghentak bersamaan. Ada pelari elit dari Kenya dan Jepang. Ada ibu-ibu komunitas lari dari Surabaya. Ada bapak-bapak UMKM dari Mataram dan Lombok Tengah yang ikut kategori 5K sambil pakai kaos brand dagangannya sendiri.
Garis finishnya bukan cuma pita. Bagi Lombok Tengah, garis itu adalah pintu rezeki.
Dua bulan kemudian. Sekarang September 2026. Angin di Pantai Kuta sudah tidak sepanas Juli, tapi cerita tentang Pocari Sweat Run Lombok masih hidup di warung kopi, di resepsionis hotel, di grup WhatsApp driver rental motor.
Pemerintah Provinsi NTB memang yang menggagas Pocari Sweat Run sebagai agenda sport tourism nasional. Tapi di lapangan, yang membuat event itu “bernapas” adalah kerja senyap Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah dan Dinas Pariwisata Lombok Tengah.
Sejak Februari, Dispar Lombok Tengah sudah keliling desa. Bukan untuk rapat. Tapi untuk duduk di balai dusun Kuta, Sengkol, dan Bagek Kembar.
“Kami bilang ke masyarakat, ini bukan event Jakarta yang numpang di Mandalika. Ini event kita,” kata Lalu Sapta Setiawan salah seorang pegiat Pariwisata Tengah saat itu.
Hasilnya, pelatihan 200 pemandu wisata lokal, sertifikasi singkat untuk 150 pelaku UMKM kuliner, dan pemetaan homestay warga agar tidak semua wisatawan numpuk di hotel berbintang. Pemda Lombok Tengah juga mengawal perizinan, pengamanan lintas OPD, sampai penyediaan shuttle gratis dari Praya ke Mandalika supaya peserta tidak mengeluh macet.
Gubernur NTB, Dr. H. Lalu Muhamad Iqbal, alias Miq Iqbal, menyebut ini evaluasi dari event tahun sebelumnya. “Kita ingin naik kelas. Dari event nasional jadi world-class marathon,” ujarnya di podium Juli lalu.
Tapi kelas itu tidak naik sendiri. Yang menaikkan adalah petugas kebersihan dari Desa Kuta yang lembur sampai jam 10 malam. Yang menaikkan adalah anak-anak komunitas di Lombok Tengah yang jadi volunteer dan hafal 3 bahasa asing pas-pasan demi mengarahkan pelari asing.
Data dari Pocari Sweat mengejutkan, 72% peserta datang dari luar Pulau Lombok. Artinya, dari 9.200 pelari, lebih dari 6.600 orang menginap, makan, belanja, dan jalan-jalan di NTB minimal 2-3 hari.
Marketing Director Pocari Sweat, Puspita Winawati, berharap mereka tidak hanya lari lalu pulang. Dan ternyata benar terjadi.
September ini, banyak homestay di kawasan Kuta masih dapat telepon “Kak, saya pelari Pocari kemarin. Mau balik lagi bulan depan, ada rekomendasi pantai sepi ?” ujar mereka.
Wakil Menteri Pemuda dan Olahraga RI, Taufik Hidayat, yang hadir Juli lalu bilang “Event seperti ini bukan hanya tentang olahraga. Ini multiplier effect.”
Angkanya sederhana tapi nyata. Hotel penuh seminggu sebelum event. Transportasi dari Bandara ke Mandalika naik 3 kali lipat. Ojek online kewalahan. Dan yang paling penting, uangnya muter di bawah.
Kalau dulu masyarakat Kuta hanya jadi penonton MotoGP dari balik pagar, kali ini beda. Di sepanjang jalur lari menuju Pantai Seger, warga buka lapak dadakan. Ada es kelapa muda, ada sate rembiga, ada kaos bertuliskan “I Ran Mandalika 2026”. ITDC sengaja menghadirkan Mandalika Street Food Festival tepat setelah lomba, dan lokasinya digeser lebih dekat ke pemukiman warga agar pembelinya tidak hanya peserta.
Bu Nani, penjual plecing di depan homestay-nya di Kuta, ketawa waktu ditanya omzet Juli. “Biasanya sehari 300 ribu. Pas Pocari, 3 hari bisa 5 juta, Mbak. Anak saya bisa bayar SPP,” ujarnya.
Tidak hanya kuliner. Komunitas kreatif Lombok Tengah juga kebagian. Ada pameran tenun, ada live music akustik dari anak muda Sengkol, ada stand foto gratis dengan latar background Bukit Merese.
ITDC pun menambah fasilitas permanen, 3 lapangan padel dan 1 lapangan basket baru diresmikan. Bukan untuk event saja. Sekarang dipakai rutin oleh anak-anak SMA Lombok Tengah tiap sore.
Sekarang kita sudah di September. MotoGP Mandalika tinggal sebulan lagi, Oktober 2026. Dan Pemda Lombok Tengah sudah memakai “blueprint” Pocari Sweat Run untuk event berikutnya.
Dispar Lombok Tengah lagi mendata, siapa saja UMKM yang naik kelas setelah Juli. Siapa yang butuh pelatihan digital marketing. Karena PR selanjutnya bukan mendatangkan orang, tapi membuat mereka betah dan kembali.
“Kita tidak mau sport tourism jadi pesta satu hari. Kita mau jadi ekosistem,” ujar salah satu staf Dispar saat rapat evaluasi Agustus lalu.
Bagi masyarakat Kuta, perubahannya terasa di hal kecil. Jalan desa lebih terang karena lampu ditambah untuk rute lari. Ada wifi gratis di beberapa titik yang dipasang saat event dan tidak dicabut lagi. Anak-anak jadi tahu, lari itu bisa jadi jalan untuk bertemu orang dari luar negeri.
Miq Iqbal punya target besar, menjadikan Mandalika destinasi olahraga kelas dunia. Tapi fondasinya bukan beton. Fondasinya adalah ketika pelari asing bertanya “dimana beli oleh-oleh?” dan yang jawab adalah mbak-mbak dari Kuta dengan logat Sasak yang bangga.
Pocari Sweat Run 2026 sudah selesai. Medali sudah digantung. Tapi di Lombok Tengah, lombanya belum selesai. Lombanya adalah menjaga momentum. Menjaga agar wisatawan yang datang karena lari, pulang karena cinta. Menjaga agar ekonomi yang tumbuh tidak hanya di hotel besar, tapi juga di warung Bu Nani.
September ini, kalau kamu ke Mandalika, kamu masih bisa lihat coretan kapur di aspal, “KM 5 Pocari Run”. Belum dihapus. Sengaja. Sebagai pengingat bahwa sekali waktu, 9.200 orang pernah berlari di sini. Dan meninggalkan lebih dari jejak sepatu. Mereka meninggalkan rezeki. Dan itu, menurut orang Kuta, adalah medali paling berharga.(*/Rd)


