NTB EXPOSE. LOMBOK TENGAH — RSUD Praya resmi menggandeng Summit Institute for Development atau SID untuk mengubah wajah layanan kesehatan di Lombok Tengah. Kerjasama ini tidak berhenti di seremoni MoU, tapi menyasar langsung pada mutu pelayanan, kapasitas SDM, riset, dan tata kelola berbasis data.
Pjs Direktur RSUD Praya, dr. Mamang Bagiansyah, menegaskan kemitraan ini adalah langkah strategis jangka panjang.
“Pada prinsipnya, kerja sama ini bagian dari upaya membangun kemitraan strategis untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan, kapasitas SDM, pengembangan riset, inovasi, serta penguatan tata kelola pelayanan yang berbasis data dan evidence,” ujarnya di Kantor RSUD Praya, Jumat, 11/09/2026.
Dua Program Utama, PROMISING dan SMART-MMS. Ada dua model kerjasama yang langsung dijalankan. Pertama, PROMISING.
Singkatan dari Proactive Risk Mitigation, Monitoring, and Case Management for Maternal and Newborn Health through Integrated Digital Ecosystems in Rural Lombok
Fokusnya satu, menyelamatkan ibu dan bayi. RSUD Praya akan menyediakan dukungan keahlian, fasilitas, dan operasional untuk memperkuat deteksi dini kehamilan risiko tinggi dan kasus neonatal.
Yang bikin berbeda adalah pendekatannya. Tidak lagi menunggu pasien datang dalam kondisi gawat, tapi bergerak lebih awal.
“Pendekatannya menarik karena tidak hanya melihat pelayanan rumah sakit ketika pasien sudah datang dalam kondisi sakit, tetapi bagaimana kita bergerak ke arah proactive healthcare,” jelas dr. Mamang.
Caranya menggunakan tiga kunci dashboard monitoring real time, artificial intelligence untuk model prediksi risiko, dan interoperabilitas data dengan standar FHIR agar data antar fasilitas bisa saling terhubung.
Kedua, SMART-MMS. RSUD Praya juga terlibat dalam program ini sebagai bagian dari ekosistem inovasi kesehatan yang lebih luas di daerah.
Kemudian ada 6 Pilar untuk Transformasi Layanan Tujuan besarnya jelas, transformasi dari yang tadinya reaktif menjadi proaktif. Dari keputusan berbasis pengalaman pribadi menjadi berbasis data dan bukti. Dari pelayanan yang jalan sendiri-sendiri menjadi terintegrasi.
Untuk sampai ke sana, kerjasama ini bertumpu pada 6 pilar
Riset dan Evidence, Setiap kebijakan diuji dengan data
Digitalisasi. Membangun ekosistem data kesehatan yang terhubung.
Peningkatan Kapasitas SDM, Menguatkan kompetensi tenaga kesehatan.
Penguatan Jejaring Rujukan. Memastikan rujukan berjalan cepat dan tepat.
Monitoring dan Evaluasi Mengukur dampak secara berkala.
Penguatan Tata Kelola Lintas Sektor melibatkan semua pihak terkait
dr. Mamang menekankan satu prinsip penting, innovation with context. Summit Institute diposisikan bukan sebagai pihak luar yang menjalankan programnya sendiri.
“Kami melihat Summit Institute bukan sebagai pihak yang datang menjalankan program sendiri, tetapi sebagai mitra dalam membangun kapasitas dan memperkuat sistem yang sudah dimiliki daerah. Setiap kerja sama harus memberikan nilai tambah bagi sistem kesehatan daerah, bukan menciptakan sistem paralel,” tegasnya.
Tolok Ukur Keberhasilan Bukan Jumlah Kegiatan. Di akhir, dr. Mamang menggarisbawahi bagaimana keberhasilan akan diukur. Bukan dari banyaknya pelatihan atau workshop.
“Ukuran keberhasilannya adalah apakah kapasitas SDM kita meningkat, apakah sistem pelayanan kita menjadi lebih baik, apakah keputusan kita semakin berbasis evidence, dan yang paling utama apakah masyarakat Lombok Tengah mendapatkan pelayanan yang lebih cepat, lebih tepat, lebih bermutu, lebih aman dan berorientasi pada pencegahan,” pungkasnya. (Ntbexpose/04)









