Camat Pujut Lalu Putrangsa Wijaya Satukan BPD, Karang Taruna, BKD dan ITDC-MGPA, Keamanan Adalah Kunci Ekonomi Warga
NTB EXPOSE, LOMBOK TENGAH – Jika Sirkuit Mandalika adalah panggungnya, maka Kecamatan Pujut adalah penjaga gerbangnya.
Menjelang Pertamina Grand Prix of Indonesia – MotoGP 2026 yang akan digelar mulai 8-11 Oktober mendatang, Pemerintah Kecamatan Pujut menunjukkan sikap paling progresif. Tidak hanya menunggu instruksi dari kabupaten atau provinsi, Pujut memilih satu komando untuk mengawal keamanan event internasional tersebut.
Bertempat di Aula Kantor Camat Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, pada Rabu (23/09/2026), Pemerintah Kecamatan Pujut bersama seluruh elemen masyarakat menggelar deklarasi bersama untuk menyukseskan MotoGP 2026.
Hadir dalam deklarasi tersebut para Kepala Desa dari 20 desa se-Kecamatan Pujut, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), tokoh masyarakat, Karang Taruna, Badan Keamanan Desa (BKD), aparat kepolisian, serta unsur pengelola kawasan Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC) dan Mandalika Grand Prix Association (MGPA).
Keamanan Adalah Pariwisata, Pariwisata Adalah Ekonomi. Camat Pujut, Lalu Putrangsa Wijaya, menegaskan bahwa deklarasi ini merupakan bentuk komitmen tegas dan kolaborasi nyata lintas sektor. Menurutnya, tanpa stabilitas keamanan, tidak akan ada pariwisata yang berkelanjutan.
“Ini adalah komitmen bersama untuk menyukseskan MotoGP 2026 dan membantu aparat keamanan menciptakan situasi yang kondusif. Stabilitas keamanan sangat penting karena dampaknya langsung terasa pada perekonomian warga lokal serta perkembangan pariwisata Lombok Tengah,” ujar Lalu Putrangsa usai acara.
Pernyataan Camat Pujut ini sangat normatif dalam kaidah pariwisata. Dalam teori pariwisata, rasa aman adalah kebutuhan primer wisatawan. Destinasi boleh indah, sirkuit boleh megah, tapi jika tidak aman, wisatawan tidak akan datang. Pujut memahami itu.
Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika yang berada di wilayah administratif Kecamatan Pujut adalah destinasi wisata unggulan Nusa Tenggara Barat yang telah mendunia. Sirkuit Mandalika dikelilingi langsung oleh pemukiman warga Pujut. Artinya, warga Pujut adalah garda terdepan, pagar hidup yang menentukan apakah wisatawan merasa aman atau tidak.
Desa Wisata Lingkar Mandalika Sebagai Penyangga Keamanan dan Ekonomi. Deklarasi ini juga memiliki makna yang lebih dalam, mengoptimalkan peran desa wisata lingkar Mandalika sebagai penyangga MotoGP 2026.
Selama ini, desa wisata di lingkar Mandalika seperti Kuta, Sengkol, Mertak, Sukadana, dan 16 desa lainnya di Pujut hanya dipandang sebagai penonton. Melalui deklarasi ini, mereka diposisikan sebagai subjek, sebagai pelaku pengamanan berbasis masyarakat.
Peran BPD sebagai pengawas sosial, Karang Taruna sebagai penggerak pemuda, dan BKD sebagai mata dan telinga keamanan di tingkat dusun, diaktifkan untuk satu tujuan, memastikan MotoGP 2026 berjalan aman, tertib, dan lancar.
Ketika keamanan optimal terjaga oleh masyarakat Pujut sendiri, maka dampak ekonominya akan langsung terasa. Homestay di desa wisata akan penuh, kuliner lokal akan laris, jasa ojek dan guide akan kebanjiran order, dan produk ekonomi kreatif akan terserap pasar.
Keamanan yang diciptakan warga adalah investasi ekonomi bagi warga itu sendiri. “Dengan dukungan penuh dari seluruh lapisan elemen masyarakat, kami optimistis kegiatan dapat berjalan dengan aman, tertib, dan lancar. Makin kuat kolaborasi, makin besar pula dukungan dari berbagai aspek untuk menyukseskan ajang ini,” pungkas Lalu Putrangsa.
Dengan deklarasi satu komando ini, Pujut mengirim pesan kuat ke dunia,” Mandalika siap secara infrastruktur, Lombok Tengah siap secara ekosistem, dan Pujut sebagai tuan rumah yang paling dekat dengan sirkuit, siap secara keamanan dan keramahan.
MotoGP 2026 bukan hanya milik ITDC dan MGPA, tapi milik 20 desa di Pujut yang siap menjadi penyangga terbaik. (*/Ntbexpose/04)












