Harga Sapi Tinggi, Keswan Siapkan Sapi Sumbawa untuk Jaga Stabilitas
NTB EXPOSE. LOMBOK TENGAH — Lonjakan harga sapi potong yang terjadi beberapa pekan terakhir di Kabupaten Lombok Tengah menghadirkan dua sisi mata uang yang berbeda. Di satu sisi, para peternak kini berada di titik paling diuntungkan dalam beberapa tahun terakhir karena harga jual ternak menembus angka tertinggi.
Di sisi lain, masyarakat konsumen harus berjuang lebih keras karena harga daging di pasar ikut terdongkrak dan membebani kebutuhan protein harian keluarga.
Fenomena inilah yang kini menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah, khususnya melalui Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner Dinas Pertanian, untuk memastikan roda ekonomi peternakan tetap berjalan tanpa mengorbankan daya beli masyarakat.
Kepala Bidang Keswan dan Kesmavet Dinas Pertanian Lombok Tengah, H. Idham Khalid, menegaskan bahwa tingginya harga sapi saat ini secara langsung menguntungkan peternak di seluruh wilayah Lombok Tengah.
“Hari-hari ini peternak diuntungkan karena harga sapi tinggi yang berpengaruh terhadap harga daging yang tinggi,” ujarnya pada Selasa, 9 September 2026. Kondisi ini tidak lepas dari kerja panjang pembangunan sektor pertanian dan peternakan yang terus didorong di bawah kepemimpinan Bupati Lalu Pathul Bahri.
Melalui berbagai program penguatan kelompok ternak, peningkatan akses pakan, pendampingan kesehatan hewan, hingga penguatan kelembagaan, Lombok Tengah kini menjelma menjadi salah satu sentra peternakan yang semakin mandiri dan berdaya saing di NTB. Ketika harga pasar naik, peternak lokal yang sudah terbina dengan baik dapat langsung memetik hasilnya.
Namun Pemkab Lombok Tengah menyadari, keberpihakan kepada peternak harus berjalan beriringan dengan perlindungan kepada konsumen.
Kenaikan harga daging yang terlalu tajam dikhawatirkan akan menekan konsumsi masyarakat, terutama menjelang hari-hari besar keagamaan dan kebutuhan gizi keluarga. “Namun di sisi lain konsumen merasa berat dengan harga daging tersebut,” imbuh H. Idham Khalid.
Untuk menjawab tantangan itu, strategi yang diambil bukan dengan menekan harga di tingkat peternak, melainkan dengan menambah pasokan agar mekanisme pasar kembali seimbang. Langkah konkretnya adalah membuka keran pemasukan ternak dari luar daerah, khususnya dari Pulau Sumbawa yang selama ini dikenal sebagai lumbung sapi terbesar di Nusa Tenggara Barat.
Upaya mendatangkan sapi dari Dompu dan wilayah Sumbawa lainnya kini menjadi prioritas. Skema ini diyakini paling realistis untuk menambah suplai, menstabilkan harga, dan menjaga agar inflasi pangan hewani di Lombok Tengah tetap terkendali.
“Kita melalui upaya menstabilkan harga lewat lalu lintas ternak, memberikan rekomendasi kepada pengusaha untuk mendatangkan sapi dari Pulau Sumbawa,” jelas H. Idham. Kebijakan ini sejalan dengan visi pembangunan pertanian Bupati Lalu Pathul Bahri yang menempatkan ketahanan pangan dan keterjangkauan harga sebagai dua pilar utama.
Dengan integrasi rantai pasok antar pulau di NTB, Lombok Tengah tidak hanya mengandalkan produksi lokal, tetapi juga membangun jejaring distribusi yang sehat dan saling menguntungkan.
Tantangannya, proses pemasukan ternak antar wilayah tidak bisa dilakukan sembarangan. Aspek kesehatan hewan menjadi syarat mutlak untuk mencegah masuknya penyakit menular.
Saat ini Pemkab masih harus menyelesaikan dokumen Analisis Risiko atau ANRIS sebagai prasyarat hukum dan teknis sebelum sapi Sumbawa bisa masuk ke Lombok Tengah. “Tapi hal ini masih terkendala karena kita harus selesaikan ANRIS,” tegas H. Idham.
Untuk mempercepat, ia memastikan akan turun langsung ke lapangan. “Insya Allah hari Minggu saya mau berangkat ke Dompu, Sumbawa untuk menyelesaikan untuk kunjungan lapangan ke Dinas Peternakan Dompu, Sumbawa, Karantina Badas,” pungkasnya.
Langkah cepat ini mencerminkan komitmen Pemkab Lombok Tengah di bawah nahkoda Bupati Lalu Pathul Bahri untuk hadir di tengah persoalan riil masyarakat. Di saat peternak menikmati harga bagus sebagai hasil dari ekosistem peternakan yang terus dikuatkan, pemerintah juga bergerak menjaga agar meja makan masyarakat tetap terisi dengan harga yang wajar.
Dengan strategi stabilisasi pasokan melalui sapi Sumbawa dan penguatan sistem kesehatan hewan, Lombok Tengah berupaya membuktikan bahwa kemajuan sektor pertanian dan peternakan bukan hanya soal angka produksi, tetapi juga soal keadilan harga bagi semua pihak, dari kandang peternak hingga dapur konsumen.(*/Ntbexpose/04)










