Lereng utara Gunung Rinjani selalu punya cara sendiri untuk membuat orang jatuh hati. Udara di sini dinginnya beda, jalannya berkelok di antara kebun kakao, dan dari kejauhan terdengar suara air yang jatuh dari sela-sela tebing. Di sinilah Desa Lantan, Kecamatan Batukliang Utara, Lombok Tengah, berada. Dulu orang hanya tahu Lantan sebagai kampung durian dan kakao. Sekarang, memasuki awal September 2026, desa ini pelan-pelan mengubah wajahnya. Ia tidak lagi sekadar lumbung hasil bumi, tapi mulai menata diri sebagai “desa wisata digital” yang mengandalkan alam dan cerita orang-orangnya.
Perubahan itu tidak datang tiba-tiba. Semuanya dimulai Juli lalu, ketika mahasiswa KKN Universitas Mataram 2026 masuk dan menggelar Sosialisasi Pengembangan Potensi Alam Desa serta Pelatihan Pemasaran Digital lewat Media Sosial. Dua bulan kemudian, efeknya mulai terasa. Wisatawan dari luar daerah berdatangan. Yang tadinya hanya lewat karena penasaran, kini ada yang sengaja datang untuk menginap, trekking, dan membeli oleh-oleh langsung dari tangan pelaku UMKM.
Kepala Desa Lantan, Erwandi, S.Pd., menyebut ada tiga jantung penggerak Lantan, pertanian, perkebunan, dan pariwisata alam. Dan yang paling ramai dibicarakan sekarang adalah air terjunnya.
“Alhamdulillah, Lantan dikaruniai sekitar 24 titik air terjun. Yang paling populer sekarang ada Kokoh Lenek di sisi barat dan Kokoh Babak di sisi timur. Pemandangannya masih sangat alami, udaranya sejuk, dan jalurnya sudah mulai kami benahi bersama pemuda desa,” ujar Erwandi kepada media belum lama ini.
Bayangkan trek sepanjang beberapa kilometer yang diapit pohon-pohon besar, tanahnya masih basah oleh embun, lalu tiba-tiba terbuka pemandangan air terjun Kokoh Babak yang jatuh dari ketinggian dengan percikan yang membasahi wajah. Di sisi lain, Kokoh Lenek menawarkan kolam alami yang tenang, cocok untuk duduk sebentar sambil mendengarkan hutan. Data pengelola wisata desa mencatat, pada Juli 2026 kunjungan ke Lantan hampir menyentuh 1.000 orang. Mereka datang dari Mataram, Lombok Timur, bahkan ada wisatawan domestik dari Jawa dan Bali yang sengaja mencari pengalaman trekking yang belum terlalu ramai.
Karena itulah Erwandi menitip pesan penting ke warganya. “Jaga kebersihan, jaga keamanan, dan ramah ke tamu. Wisatawan sekarang bukan cuma cari tempat bagus, tapi juga cari pengalaman dan keramahan.” Pesan itu sederhana, tapi jadi fondasi agar Lantan tidak kehilangan jiwanya saat mulai dikenal orang.
Selain air terjun, Lantan punya kartu lain yang tidak kalah kuat, durian. Durian Lantan sudah melegenda di Lombok Tengah karena rasanya yang legit, dagingnya tebal, dan aromanya khas pegunungan. Tidak berhenti di situ, ada juga kakao, kopi, cengkeh, dan buah-buah hutan yang dulu hanya dikonsumsi sendiri. Kini semua itu mulai dikemas jadi oleh-oleh. Ada keripik durian yang renyah, cokelat olahan kakao yang mulai punya pelanggan tetap, madu hutan, sampai kerajinan bambu dari tangan-tangan warga. Masalahnya, selama ini pemasarannya masih dari mulut ke mulut atau dititip di pasar kecamatan.
Melihat celah itu, Diskominfo Lombok Tengah turun langsung. Kabid PIKP, H. Iswandi Khaery Ramen, S.IP., M.Han., hadir di pelatihan Juli lalu dan mengajari warga cara “bermain algoritma”. Bahasanya tidak rumit. Ia menyebutnya konsep 3-1-1.
“Kuncinya ada di personal branding dan konsistensi konten. Kami ajarkan tiga konten edukasi, misalnya cara memetik durian yang baik atau proses pembuatan cokelat dari biji kakao. Satu konten untuk membangun hubungan, seperti cerita keseharian petani. Dan satu konten promosi. Kalau polanya rutin, algoritma TikTok dan Instagram akan bantu dorong,” jelas Iswandi yang akrab dipanggil Tuan Wendy ini.
Hasilnya langsung terlihat. Pemuda-pemuda Lantan kini punya akun aktif, TikTok @WisataLantan dan Instagram @umkmlantan. Isinya beragam. Ada video POV mendaki ke Kokoh Babak dengan napas yang masih terengah, ada tutorial mengupas durian sampai ke kulitnya yang paling tipis, ada juga live jualan cokelat Lantan sambil bercerita dari mana biji kakao itu dipetik.
Muhammad Nur Arif dari Dinas Lingkungan Hidup NTB juga mengingatkan satu hal penting di tengah euforia promosi ini, jaga alamnya. Ia mendorong kampanye #LantanBersih agar sampah plastik tidak mengotori jalur trekking dan ekosistem 24 air terjun tetap terjaga.
Di tengah semua kesibukan itu, muncul semangat baru dari pelaku UMKM seperti Nurhayati. Ia yang dulu hanya menerima pesanan dari tetangga, sekarang sudah mulai menerima order cokelat via Shopee. Baginya, digitalisasi bukan sekadar gaya-gayaan. Ini jembatan.
“Kami tidak mau Lantan hanya jadi tempat singgah. Kami ingin wisatawan menginap, beli produk lokal, dan kembali lagi. Digitalisasi ini jembatan kami ke dunia luar,” katanya.
Target pemerintah desa bersama Diskominfo Loteng dan kampus sudah jelas. Di akhir 2026, Lantan ingin masuk ke dalam peta wisata alternatif Lombok Tengah, sejajar dengan nama besar seperti Mandalika dan Pantai Kuta.
Bahkan paket wisata “3 Hari 2 Malam, Jelajah 5 Air Terjun serta Edukasi Kakao” sedang dirancang dan rencananya diluncurkan Oktober mendatang. Paket itu bukan hanya soal jalan-jalan. Wisatawan akan diajak melihat langsung bagaimana kakao diproses dari biji sampai jadi cokelat, ikut memetik durian, dan menginap di rumah warga agar merasakan hidup di lereng Rinjani yang sebenarnya.
Dengan alam yang masih perawan, produk unggulan yang punya karakter, dan anak-anak muda yang mulai melek digital, Desa Lantan sedang membuktikan satu hal, naik kelas itu tidak harus menunggu jadi kota. Cukup dengan menjaga apa yang dimiliki, menceritakannya dengan cara baru, dan menyambut tamu dengan hati.
Lantan tidak menawarkan kemewahan. Ia menawarkan sejuknya air terjun, legitnya durian, dan cerita orang-orang yang percaya desanya bisa dikenal lebih luas. Dan mungkin, itu justru yang paling dicari orang sekarang.(*/Rd)








