NTB EXPOSE Menanggapi kegaduhan seputar ITDC yang terjerat hutang sebesar 4,6 triliun rupiah dari pengelolaan The Mandalika, Lalu Alamin, Ketua Solidaritas Warga Inter Mandalika (SWIM), kepada media Jumat (23/6) ia mengakuti tidak kaget. Menurutnya, sedari awal kita masyarakat umum juga sudah tahu bahwa pendanaan pembangunan The Mandalika berasal dari pinjaman. Informasi ini dipertegas dalam beberapa pertemuannya dengan pihak Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB) selaku pemberi pinjaman.
“Sejak tahun 2021 SWIM sudah mengikuti setidaknya enam kali pertemuan dan diskusi
grup terfokus (FGD) dengan pihak AIIB baik secara langsung maupun secara virtual
melalui zoom meeting.
Tema diskusi memang variatif tapi dari background information kami paham bagaimana posisi AIIB. Kami tahu bahwa proyek – proyek besar di KEK Mandalika didanai mereka. Jadi soal hutang ini bukan informasi baru.” Demikian juga tentang kerugian ITDC / MGPA dari penyelenggaraan World Superbike (WSBK) dan MotoGP, menurut Ketua SWIM, itu hal yang wajar. Sebuah bisnis padat investasi memang sulit membukukan profit ditahap – tahap awal operasional.
Tapi yang mengejutkan sekaligus mengecewakan adalah niat pihak ITDC untuk menghapus penyelenggaraan WSBK kalender event di Sirkuit Internasional Mandalika karena terus membukukan kerugian.
Menurut Lalu Alamin, penting untuk diingat bahwa salah satu tujuan utama pembangunan
sirkuit Mandalika, pergelaran WSBK dan MotoG Padahal untuk mempromosikan
Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika. Sebagai sebuah event promosi, wajar jika
investasi yang signifikan pada kedua event ini tidak memberikan keuntungan finansial
secara langsung.
“Upaya promosi itu fokusnya adalah pada manfaat jangka panjang dan menjadikan
Mandalika sebagai tujuan wisata terkemuka. Jadi tidak masuk akal rasanya untuk
mengharapkan keuntungan langsung dari kedua event tersebut. Kerugian bisnis yang
dialami ITDC harus dipandang sebagai investasi jangka panjang yang diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan kawasan Mandalika kedepannya.”
Jadi penting untuk digarisbawahi bahwa menghapus WSBK dari acara mendatang di
Sirkuit Internasional Mandalika adalah keputusan yang salah dari ITDC/MGPA. Kejuaraan World Superbike adalah acara bergengsi yang menarik perhatian internasional dan membantu meningkatkan reputasi sirkuit dan kawasan secara keseluruhan. Menghapus acara besar seperti itu berpotensi menurunkan image dan reputasi Mandalika sebagai tujuan wisata terkemuka.
“Berdasarkan pengalaman dari tigakali penyelenggaraan WSBK, satu kali tespra-musim MotoGP dan satu kali balapan utama MotoGP, semua event tersebut mampu
meningkatkan geliat industri pariwisata dikawasan Mandalika secara khusus danbpulau Lombok secara umum sampai level tertinggi. Melihat besarnya dampak ekonomi langsung maupun tidak langsung bagi masyarakat tempatan dan daerah, maka bolehlah kerugian kerugian tersebut juga dipandang sebagai biaya stimulus untuk mendorong pertumbuhan
industri pariwisata dikawasan.”
Dari pada menghapus salah satu high-profile event tersebut, ITDC dan MGPA sebaiknya
lebih fokus untuk mengidentifikasi strategi untuk memitigasi kerugian dan meningkatkan revenue pada kedua event internasional ini. Hal ini bisa mencakup penekanan biaya dengan memangkas item-item yang tidak vital bagi penyelenggaraan event. Dan lebih penting lagi ITDC harus mampu mengkapitalisasi popularitas global Sirkuit Mandalika, MotoGP dan WSBK untuk menarik investasi ke kawasan Mandalika.
Bicara soal investasi ke KEK Mandalika sejak diluncurkannya Sirkuit Internasional
Mandalika dan penyelenggaraan WSBK yang pertama pada tahun 2021, kami belum
melihat ada geliat aktivitas baru di KEK Mandalika selain pembangunan infrastruktur
penunjang. Makanya kami berasumsi bahwaI TDC masih belum mampu mendatang kan
satupun investasi baru ke Mandalika. Conversion rate mereka zero. Artinya marketing ITDC lemah dan tidak berfungsi sebagaimana yang diharapkan padahal ITDC sudah mendapat dukungan finansial dari pemerintah melalui penyertaan modal negara (PMN) dan juga dukungan political will dari tingkat dusun, desa, sampai pemerintah pusat
( Presiden RI ).”
Melihat kegagalan ITDC dalam menjalankan tugas dan fungsi utamanya ini, Lalu Alamin
mendukung penuh pemikiran Gubernur NTB agar Pemerintah Provinsi NTB mengambil alih penyelenggaraan event MotoGP danWSBK. Hal ini akan mengurangi beban kerja dan beban finansial ITDC sehingga bisa memfokuskan sumber dayanya pada upaya-upaya mengembangkan, memasarkan kawasan, dan menarik investasi baru ke Mandalika. “Tahun lalu Pemprov NTB berhasil menyelenggarakan MXGP Samota dengan lancar. Tahun ini bahkan dua seri MXGP diselenggarakan di NTB yaitu MXGP Samota pada bulan Juni 2023 dan MXGP Lombok pada awal Juli 2023.
Mungkin MotoGP membutuhkan manajemen dan logistic yang lebih rumit, tapi kesuksesan Pemprov dalam menyelenggarakan tiga seri MXGP membuktikan bahwa kami putra daerah juga memiliki know-how yang memadai untuk menyelenggarakan event-even tinternasional yang high profile.”
Menurut Lalu Alamin, pengambil-alihan kedua event ini juga akan memperluas manfaat ekonomi keuangan untuk kemajuan daerah. Pemprov NTB bisa membentuk Badan UsahaMilik Daerah (BUMD) baru yang dikhususkan sebagai penyelenggara MotoGP,MXGP dan WSBK serta event-event internasional lainnya di NTB seperti L’Etape Indonesia , PGAWC,
dan lain-lain.
Dengan demikian maka keuntungan-keuntungan finansial dari penyelenggaraan event internasional di NTB secara keseluruhan bisa masuk kekas pemerintah Provinsi dan dinikmati oleh masyarakat NTB.
“Kalau nanti Pemprov berhasil mengambil-alih penyelenggaraan WSBK dan MotoGP,
maka MGPA sebagai anak perusahaan ITDC yang membidangi event-event disirkuit
Mandalika bisa dilikuidasi karena sudah tidak akan diperlukan lagi. Ya, nanti MGPA harus dibubarkan agar ITDC bisa mempertahankan postur yang lebih ideal”
“Dan sebagai penutup, kami di SWIM ingin menekankan bahwa apabila MGPA memaksa
untuk menghapus WSBK dari calendar of event Sirkuit Mandalika,l ebih baik MGPA saja
yang dibubarkan karena mereka semua jelas-jelas wanprestasi. Mereka gagal
menjalankan visi para pemegang saham dan pada tataran operasional dilapangan mereka
tidak mampu membangun hubungan yang harmonis dengan warga tempatan.
Kalau tidak mau dilikuidasi, alternatif lainnya adalah MGPA diakuisisi oleh BUMD Pemprov NTB sehingga akan memberikan peluang yang lebih luas bagi putera daerah untuk berkiprah
memajukan daerahnya sendiri.” Terakhir, kami Solidaritas Warga Inter Mandalika SWIM ingin mengulang dan mempertegas kalau kami lebih menginginkan MGPA yang ditiadakan dari pada WSBK karena sejauh pengamatan kami, gerbong MGPA yang tidak jelas asal usulnya, tidak tentu backgroundnya ini tidak memiliki kemampuan promosi yang cukup sehingga event2 di Sirkuit Mandalika abai dari perhatian para sponsor, jangankan membangun komunikasi yang baik dengan pihak luar yang berpotensi menjadi sponsor, menjaga interaksi positif
dengan warga tempatan saja mereka tidak becus. Jauh sebelum”Insiden salah ucap dirut
ITDC viral kami sudah gaungkan “Usir MGPA dari tanah moyang kami,”tegas Lalu Alamin. (Ntbexpose/03)






