NTB EXPOSE. Lombok Tengah – Sebagai bentuk aktualisasi peran, dedikasi dan kontribusi nyata ke masyarakat. Sejumlah Dosen dan mahasiswa Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer (STMIK) Lombok, menginisiasi program pengabdian ke masyarakat berupa peningkatan kebersihan lingkungan Desa Wisata Sejarah Bonjeruk Lombok Tengah melalui pengolahan kotoran ternak menjadi biogas dan pupuk organik, disambut antusias oleh masyarakat.
Kegiatan tersebut diawali dengan tahapan sosialisasi sejak 21 juli lalu. kemudian Fokus Group Discussion ( FGD ), Berlanjut ke proses survei titik pembangunan reaktor biogas sekaligus pelatihan bagi 10 tukang yang direkrut oleh Pokdarwis Wirajaya Putra Jonggat ( WPJ ) yang berbasis seni budaya dan sejarah dan Pokdarwis Bonjeruk Permai berbasis ecotourism. Praktik lapangan dimulai 13 Agustus sampai dengan 11 Oktober 2022.
Diantara inisiatornya adalah 3 Dosen pengusul yakni Wire Bagye, Ichwan purwata, dan Muhammad Taufan Asri Zaen. Melibatkan juga Khairul Imtihan, Muhammad Fauzi Zulkarnaen, Lalu Mutawalli, serta Maulana Ashari.
“Mahasiswa juga ikut guna implementasikan Merdeka Belajar Kampus Merdeka ( MBKM ), ” Kata Wire Bagye Selaku Dosen Informatika dan juga ketua pelaksana PKM-S.
Wire mengungkapkan, ini merupakan Program Kemitraan Masyarakat Stimulus (PKMS) Tahun 2022 dengan sumber pendanaan dari KEMDIKBUDRISTEK. Desa Wisata Sejarah Bonjeruk dipilih karena melihat potensi Desa Wisata yang perlu mendapat intervensi dalam tata kelola jalur bersepeda menelusuri perkebunan, persawahan, dan tempat bersejarah yang masih tercemar dengan kotoran ternak sapi dibeberapa titik.
” Kotoran sapi akan diolah jadi biogas di reaktor lalu terkoneksi ke kompor untuk memasak penuhi kebutuhan rumah tangga warga,” papar Wire.
Ampas biogas berupa lumpur yang sudah terurai, selanjutnya, diolah jadi pupuk organik cair dan padat yang dapat dimanfaatkan budidaya tanaman sayuran dan lainnya.
” Alhamdulillah hasilnya memuaskan, kompor menyala dan demoplot pupuk organik berhasil, uji coba pada tanaman vakcoi tumbuh subur, masyarakat jadi yakin,” tuturnya.
Hasil dari pengabdian STMIK Lombok, pertama, jalur bersepeda bagi wisatawan jadi steril dan bersih. Kedua, telah mencetak tukang ahli pembuatan reactor Biogas model Fixed Dome. Ketiga, lahir kemandirian produksi pupuk organik berbahan ampas biogas yang miliki nilai jual untuk dikomersialkan.
” Kami hadir bukan hanya memberi himbauan tapi juga solusi, kami hanya membuat 1 reaktor sebagai percontohan dulu, jika program ini mau diadopsi dan dikembangkan, sudah ada bekal keterampilan dan penguasaan ilmu yang dapat diberdayakan pemerintah Desa ataupun pihak tertentu demi kemajuan dimasa mendatang,” terangnya.
Usman, Ketua Pokdarwis Bonjeruk Permai menanggapi kegiatan pengabdian Bapak Wire Bagye dan segenap tim STMIK Lombok sangat bermanfaat terutama dalam peningkatan kebersihan jalur sepeda dari kotoran sapi.
“ Kami senang, sekarang kotoran sapi tidak lagi dibuang di pinggir jalur sepeda namun langsung dimasukkan ke reaktor biogas,” tanggapnya.
Kedepan, kami berharap akan terus terjalin kerjasama dengan STMIK Lombok secara berkelanjutan dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat khususnya diwilayah Bonjeruk. ( Irs )








