NTB EXPOSE. Lombok Tengah- Guna menjamin kesehatan dan tumbuh kembang anak sejak usia dini demi keselamatan generasi bangsa. Secara nasional, upaya pemerintah untuk menekan berbagai resiko penyakit stunting dan lainnya terus digencarkan.
Melalui Kemenkes, telah dicanangkan Bulan Imunisasi Anak Nasional ( BIAN ) tahap pertama yang dimulai mei 2022 ini.
Termasuk dari 6 wilayah target tahapan pertama bersama Sumatera, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Papua.
Pelaksanaan BIAN di NTB khususnya di Kabupaten Lombok Tengah terpantau berpusat di Desa Pengenjek Kecamatan Jonggat, sabtu ( 28/ 05 ). Dihadiri sebanyak 283 balita.
” Selama pandemi semua proses imunisasi dan posyandu terhadap 1,7 juta anak terhambat, dari itu pemerintah kejar target genjot kembali melalui program BIAN, ” Kata Dr Suardi Kepala Dinas Kesehatan Loteng.
Untuk mencapai yang diharapkan, petugas kesehatan sesungguhnya hanya miliki peran 30 persen, 70 persen selebihnya ditentukan oleh sinergi semua pihak utamanya masyarakat. Sehingga butuh kolaborasi bersama.
” Sebagai langkah antisipatif, kami kontrol dan deteksi sejak ibu hamil, agar pemberian gizi cukup, pertumbuhan bayi dalam kandungan baik, tidak melahirkan anak stunting, ” tambahnya.
Ketua DPC Partai Gerindra Lombok Tengah, Muhalip, mendukung penuh program tersebut.
” Kita harus persiapkan kesehatan anak dari awal, sehingga ketika dia dewasa, tahan terhadap segala macam penyakit, dan menjadi generasi yang unggul, bahka jika diperlukan kita siap buat perda untuk mengatur pencegahan stunting dan berbagai resiko penyakit lainnya” tanggapnya.
Sebagai tuan rumah pelaksanaan BIAN di Loteng, Kepala Desa Pengenjek Khaerudin, sangat bersyukur dan memberi apresiasi penuh. Ia mengungkapkan, soal imunisasi dan posyandu sudah menjadi prioritas kerja Pemdes, para petugas kesehatan dan steck holder lain. Pendampingan berjalan intens terhadap pencegahan segala resiko penyakit baik itu stunting, gizi buruk, pnumenia, ibu hamil kep, dan sebagainya.
Dipaparkan, pada tahun 2022, terdapat sekitar 1200-an balita yang terdata. Setiap tahun estimasinya bertambah 300-400 jumlah kelahiran. Tingkat kematian ibu dan anak rendah, 1 banding 4.
Agar lebih tepat sasaran, Khaerudin menyeru, kerjasama yang berjalan mesti ditingkatkan komunikasinya. Supaya tidak tumpang tindih. Antara ranah Pemdes dan Petugas kesehatan. Sehingga bisa saling mengisi dengan maksimal. ( irsyad )












