NTB EXPOSE. Lombok Tengah – Jumat siang (11/3) di JM Hotel Kuta terjadi insiden tidak mengenakan. Berdasarkan Informasi yang dihimpun media, manager kepala operasional ITDC Made Pariwijaya nyaris ditebas parang dan menjadi bulan bulanan pemilik lahan di KEK Mandalika yang belum dibayar ITDC.
Bagaimana tidak, oknum pegawai ITDC itu mau di gebuk dan diparangin pemilik lahan, mereka merasa di permainkan oleh pihak ITDC yang selama ini berjanji akan menyelesaikan pembayaran tanah Sirkuit MotoGP yang masih menyisakan masalah.
Kita berharap Satgas yang sudah di bentuk Gubernur bisa bekerja dengan serius jangan melakukan propaganda dan mencari cara mengelabui masyarakat pemilik lahan,”kata Muhamad Samsul Qomar (MSQ) selaku Juru bicara Aliansi Pejuang Lahan KEK Mandalika.
Diungkapkannya, reaksi yang dilakukan pemilik tentu sangat dipahami secara fsikologis warga sudah bosan dengan tingkah para pemangku BUMN tersebut. Untung masih bisa di kendalikan kalau tidak lama lama bisa bentrok beneran,”kata MSQ.
Dijelaskan MSQ, kita minta Pemprov segera ambil alih, apa sih bedanya dengan yang sudah dibayar kemarin kan semua sama sama HPL, jangan dong ada diskriminasi,” sergahnya.
Pihaknya tetap akan berjuang sampai kapanpun dan dengan cara cara yang bermartabat, karena Aliansi ini tetap
Mendukung MotoGP dilaksanakan namun hak hak warga pemilik juga harus segera diselesaikan.
Ini soal hak dan kewajiban tidak ada urusan soal aksi demo dan lainnya, kita sedang menuntut hak dan pemerintah wajib memenuhinya tidak ada jalan lain,” pungkasnya. Pada aksi frontal Pemilik lahan tersebut juga di saksikan oleh Kapolres Loteng dan anggota Polres yang sedang berjaga di sekitar Kuta Mandalika.
Diketahui Pada saat kejadian di JM Hotel tersebut, Made Pariwijaya langsung diamankan karena nyaris di tebas parang oleh pemilik lahan. Selain itu menurut MSQ sesuai dengan statement atau pernyataan kuasa hukum Jaye Ranti alias I’in
dikatakannya,” Hari Rabu, mereka diantarkan Maklumat dari Kepala kepolisian oleh anggota satgas, trus sempat melakukan pertemuan lagi, malamnya saya dampingi di Hotel Puri Rinjani setlah Magrib dengan anggota satgas yg lain, yaitu Kapolres beserta pihak lainnya dengan kami dan dibawakan lagi surat itu, tapi dari pihak kami (lahan BATIN) menolak untuk mengijinkan ITDC mempergunakan lahan mereka apapun alasannya.
Pemilik menyampaikan dan mengatakan “saya tidak akan ganggu acara kalian, begitu juga kalian jangan ganggu kami dengan mempergunakan lahan kami yang belum kalian bayar untuk bisnis kalian,” kata warga yang ditirukan Jaye Ranti.
Kemudian, Ketika pada pagi hari pemilik lahan kebetulan tidak ada yang jaga di lokasi, “eh ! taunya lahan tersebut digusur, setelah pemilik lahan tahu lahannya mau digusur, lalu mereka pagari lahannya setelah selesai Azan Magrib bertepatan dengan malam Jumat sampe jam 3 pagi. Nah ! tadi pagi (Jumat 11/3) mereka ( Pihak ITDC ) datang lagi dengan semena mena untuk mencabut pagar, lalu pemilik marah besar, akhirnya mereka di suruh pasang lagi, baru mereka diajak ke JM Hotel, karena disana juga hasilnya buntu.
Mereka bilang Bupati meminta agar dibuka lagi pagarnya dan mantan panglima TNI, pak Hadi Cahyanto akan turun langsung untuk cabut pagar, lalu mereka mulai emosi lagi, pihak ITDC datang karena dipanggil bupati dan akhirnya terjadi insiden tersebut,” kata Jaye Ranti seperti yang dijelaskan MSQ.(ntbexpose/03)









