28 Oktober 2025, bertepatan dengan peringatan 97 tahun Sumpah Pemuda, Lombok berduka. Salah satu tokoh yang disegani di kalangan pesantren di Lombok Barat berpulang. Seorang guru, pendidik, sekaligus pilar penting Pondok Pesantren Nurul Haramain, Narmada.
Beliau adalah TGH Mustajab Syukri, seorang pendidik dan pejuang sunyi yang mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk membangun, merawat, dan menanamkan nilai-nilai keislaman di lingkungan pesantren. Sosok yang tidak banyak tampil di depan, namun jejak pengabdiannya tertanam kuat dalam perjalanan Pondok Pesantren Nurul Haramain.
Hampir setahun telah berlalu, namun ingatan tentang beliau belum pudar dari keluarga, santri, dan masyarakat. Sebuah peristiwa di TPU Sapit kembali menghidupkan kisah perjuangan, pengorbanan, serta lika-liku beliau dalam mendidik umat agar berpijak pada etika dan melangkah dengan adab Islami.
Jejak langkah itu bermula jauh sebelum nama besar Nurul Haramain dikenal luas seperti hari ini. Pada masa ketika lahan masih sederhana, fasilitas terbatas, dan arah masa depan pesantren belum sepenuhnya terpetakan, beliau telah berada di barisan depan; sebagai pekerja sunyi yang menguatkan fondasi, mengajar, membina, serta turut membangun dari bawah bersama para perintis lainnya.
Dari fase awal tersebut, peran beliau menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam perjalanan Ponpes Nurul Haramain. Beliau mendampingi TGH Muhammad Djuaini Mukhtar selaku pendiri menghadapi berbagai fase krusial dalam merintis lembaga, mulai dari keterbatasan sumber daya hingga membangun kepercayaan masyarakat. Dalam situasi itu, kehadiran sosok yang bekerja konsisten di lapangan menjadi penopang utama keberlangsungan pesantren.
Menurut informasi dari Haji Jumhar, warga Dusun Bertais, Desa Murbaya, Kecamatan Pringgarata, yang merupakan salah seorang murid beliau, TGH Mustajab Syukri bukan sekadar pendidik teladan, tetapi juga pengayom umat. Peran beliau tidak hanya terpusat di Pondok Pesantren Nurul Haramain, melainkan juga menjangkau sejumlah pondok pesantren NW lainnya di Lombok Barat dan Lombok Tengah.
“TGH Mustajab Syukri dikenal sebagai sosok yang membimbing dengan keteladanan. Beliau tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga menanamkan pentingnya adab, kesederhanaan, dan tanggung jawab dalam kehidupan bermasyarakat,” ungkap Haji Jumhar, 12/05/2026.
TGH Mustajab Syukri wafat pada Selasa, 28 Oktober 2025, dan dimakamkan di TPU Sapit, Tanak Tepong, Narmada. Kepergian beliau menjadi duka mendalam bagi keluarga besar Nurul Haramain serta masyarakat yang mengenalnya sebagai pendidik dan pejuang pondok.
Pondok Pesantren Nurul Haramain sendiri merupakan salah satu lembaga pendidikan Islam berpengaruh di Lombok Barat.
Mengutip laman Nurul Haramain NW di WordPress, Pondok Pesantren Nurul Haramain tumbuh dari dinamika keagamaan masyarakat Narmada sejak 1950-an. Berawal dari kebutuhan pembinaan agama yang lebih terarah, masyarakat kemudian membentuk Djama’ah Islam Narmada (DIN). Atas restu Maulana Syekh TGH Zainuddin Abdul Madjid, dihadirkan sejumlah tenaga pendidik dari Pancor, di antaranya TGH Muhammad Djuaini Mukhtar dan Ustadz Ma’ad Adnan.
Pada 18 Agustus 1951, berdiri Madrasah Nurul Huda NW sebagai cikal bakal lembaga. Perkembangannya berlanjut menjadi PGA NW 4 Tahun pada 1963, lalu bertransformasi menjadi MTs dan MA NW pada 1977. Seiring bertambahnya santri, pada 1991 dibentuk Pondok Pesantren Nurul Haramain sebagai sistem pendidikan berasrama yang mengintegrasikan pendidikan formal dan nonformal.
Dalam seluruh fase tersebut, TGH Mustajab Syukri terlibat langsung dalam pembinaan santri. Beliau dikenal konsisten menanamkan adab, kedisiplinan, serta keteguhan dalam menuntut ilmu, sekaligus membangun kultur pesantren yang sederhana dan berorientasi pada pengabdian.
Pihak keluarga menyampaikan bahwa almarhum hingga akhir hayat tetap menunjukkan komitmen terhadap dunia pendidikan.
“Beliau tidak pernah benar-benar berhenti mengajar. Bahkan ketika kondisi fisik menurun, perhatian beliau terhadap santri dan pesantren tetap besar,” ujar Sulhan Syukri salah seorang putra beliau, 12/05/2026.
Sementara itu, pihak Pondok Pesantren Nurul Haramain melalui akun Instagram Media Center Haramain juga menyampaikan bahwa TGH Mustajab Syukri merupakan pejuang, pendidik, perintis, dan salah satu sosok kunci yang mendampingi TGH Muhammad Djuaini Mukhtar dalam perjalanan lembaga tersebut.
Sejumlah santri dan alumni mengenang beliau sebagai pribadi yang lebih banyak bekerja daripada berbicara. Keterlibatan beliau dalam aktivitas harian pesantren, terutama pada masa awal berdiri, menjadi bagian penting dalam pembentukan fondasi Nurul Haramain hingga berkembang seperti saat ini.
Kepergian TGH Mustajab Syukri meninggalkan jejak penting dalam sejarah perkembangan Pondok Pesantren Nurul Haramain. Kontribusi beliau sebagai perintis, pendamping, pendidik, sekaligus pengayom umat menjadi bagian dari perjalanan panjang lembaga tersebut dalam mencetak generasi santri di Lombok dan sekitarnya.
Mengenang Pejuang Pondok : TGH Mustajab Syukri, Tanak Tepong, Narmada
28 Oktober 2025, bertepatan dengan peringatan 97 tahun Sumpah Pemuda, Lombok berduka. Salah satu tokoh yang disegani di kalangan pesantren di Lombok Barat berpulang. Seorang guru, pendidik, sekaligus pilar penting Pondok Pesantren Nurul Haramain, Narmada.
Beliau adalah TGH Mustajab Syukri, seorang pendidik dan pejuang sunyi yang mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk membangun, merawat, dan menanamkan nilai-nilai keislaman di lingkungan pesantren. Sosok yang tidak banyak tampil di depan, namun jejak pengabdiannya tertanam kuat dalam perjalanan Pondok Pesantren Nurul Haramain.
Hampir setahun telah berlalu, namun ingatan tentang beliau belum pudar dari keluarga, santri, dan masyarakat. Sebuah peristiwa di TPU Sapit kembali menghidupkan kisah perjuangan, pengorbanan, serta lika-liku beliau dalam mendidik umat agar berpijak pada etika dan melangkah dengan adab Islami.
Jejak langkah itu bermula jauh sebelum nama besar Nurul Haramain dikenal luas seperti hari ini. Pada masa ketika lahan masih sederhana, fasilitas terbatas, dan arah masa depan pesantren belum sepenuhnya terpetakan, beliau telah berada di barisan depan; sebagai pekerja sunyi yang menguatkan fondasi, mengajar, membina, serta turut membangun dari bawah bersama para perintis lainnya.
Dari fase awal tersebut, peran beliau menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam perjalanan Ponpes Nurul Haramain. Beliau mendampingi TGH Muhammad Djuaini Mukhtar selaku pendiri menghadapi berbagai fase krusial dalam merintis lembaga, mulai dari keterbatasan sumber daya hingga membangun kepercayaan masyarakat. Dalam situasi itu, kehadiran sosok yang bekerja konsisten di lapangan menjadi penopang utama keberlangsungan pesantren.
Menurut informasi dari Haji Jumhar, warga Dusun Bertais, Desa Murbaya, Kecamatan Pringgarata, yang merupakan salah seorang murid beliau, TGH Mustajab Syukri bukan sekadar pendidik teladan, tetapi juga pengayom umat. Peran beliau tidak hanya terpusat di Pondok Pesantren Nurul Haramain, melainkan juga menjangkau sejumlah pondok pesantren NW lainnya di Lombok Barat dan Lombok Tengah.
“TGH Mustajab Syukri dikenal sebagai sosok yang membimbing dengan keteladanan. Beliau tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga menanamkan pentingnya adab, kesederhanaan, dan tanggung jawab dalam kehidupan bermasyarakat,” ungkap Haji Jumhar, 12/05/2026.
TGH Mustajab Syukri wafat pada Selasa, 28 Oktober 2025, dan dimakamkan di TPU Sapit, Tanak Tepong, Narmada. Kepergian beliau menjadi duka mendalam bagi keluarga besar Nurul Haramain serta masyarakat yang mengenalnya sebagai pendidik dan pejuang pondok.
Pondok Pesantren Nurul Haramain sendiri merupakan salah satu lembaga pendidikan Islam berpengaruh di Lombok Barat.
Mengutip laman Nurul Haramain NW di WordPress, Pondok Pesantren Nurul Haramain tumbuh dari dinamika keagamaan masyarakat Narmada sejak 1950-an. Berawal dari kebutuhan pembinaan agama yang lebih terarah, masyarakat kemudian membentuk Djama’ah Islam Narmada (DIN). Atas restu Maulana Syekh TGH Zainuddin Abdul Madjid, dihadirkan sejumlah tenaga pendidik dari Pancor, di antaranya TGH Muhammad Djuaini Mukhtar dan Ustadz Ma’ad Adnan.
Pada 18 Agustus 1951, berdiri Madrasah Nurul Huda NW sebagai cikal bakal lembaga. Perkembangannya berlanjut menjadi PGA NW 4 Tahun pada 1963, lalu bertransformasi menjadi MTs dan MA NW pada 1977. Seiring bertambahnya santri, pada 1991 dibentuk Pondok Pesantren Nurul Haramain sebagai sistem pendidikan berasrama yang mengintegrasikan pendidikan formal dan nonformal.
Dalam seluruh fase tersebut, TGH Mustajab Syukri terlibat langsung dalam pembinaan santri. Beliau dikenal konsisten menanamkan adab, kedisiplinan, serta keteguhan dalam menuntut ilmu, sekaligus membangun kultur pesantren yang sederhana dan berorientasi pada pengabdian.
Pihak keluarga menyampaikan bahwa almarhum hingga akhir hayat tetap menunjukkan komitmen terhadap dunia pendidikan.
“Beliau tidak pernah benar-benar berhenti mengajar. Bahkan ketika kondisi fisik menurun, perhatian beliau terhadap santri dan pesantren tetap besar,” ujar Sulhan Syukri salah seorang putra beliau, 12/05/2026.
Sementara itu, pihak Pondok Pesantren Nurul Haramain melalui akun Instagram Media Center Haramain juga menyampaikan bahwa TGH Mustajab Syukri merupakan pejuang, pendidik, perintis, dan salah satu sosok kunci yang mendampingi TGH Muhammad Djuaini Mukhtar dalam perjalanan lembaga tersebut.
Sejumlah santri dan alumni mengenang beliau sebagai pribadi yang lebih banyak bekerja daripada berbicara. Keterlibatan beliau dalam aktivitas harian pesantren, terutama pada masa awal berdiri, menjadi bagian penting dalam pembentukan fondasi Nurul Haramain hingga berkembang seperti saat ini.
Kepergian TGH Mustajab Syukri meninggalkan jejak penting dalam sejarah perkembangan Pondok Pesantren Nurul Haramain. Kontribusi beliau sebagai perintis, pendamping, pendidik, sekaligus pengayom umat menjadi bagian dari perjalanan panjang lembaga tersebut dalam mencetak generasi santri di Lombok dan sekitarnya.












