NTB EXPOSE. Lombok Tengah – Menimbang perkembangan sekolah SMPN 6 Jonggat, di Desa Labulia yang kondisinya stagnan dengan serapan peserta didik yang bisa dihitung jari setiap ajaran baru.
Pemda Lombok Tengah berinisiasi ambil tindakan revolutif untuk mengalih fungsi sekolah tersebut menjadi SMP berbasis IT sebagai Lembaga Pendidikan khusus anak yatim dan golongan tidak mampu pertama di NTB.
Bupati HL.Pathul Bahri, S.Ip ( LPB ) dalam lawatannya ke lokasi, jum’at ( 23/09/22 ) mengungkapkan bentuk intervensi ke SMPN 6 Jonggat demi kebermanfaatan yang lebih besar di masa depan sekaligus wujud pertahankan komitmen perhatikan anak yatim.
” Anak yatim investasi yang menjanjikan, kita patut menaruh harapan dan kepercayaan pada mereka, karena miliki potensi besar jadi generasi unggul, ” ujar Pathul.
Dikatakan, banyak anak yatim yang cerdas, pintar, berilmu dan penghafal Qur’an. Perlu diasah, asih, asuh mengingat tidak ada lagi tempat bergantung karena orang tua tiada. Maka perlu diberikan ruang dan kesempatan luas untuk berdayagunakan hampir 12.000 anak yatim di Loteng.
Sehingga kedepan, Lanjut LPB, Lembaga ini diatensi dapat mencetak siswa berprestasi dan juga Hafidz Qur’an. LPB juga berencana membangun klinik kesehatan di tempat yang strategis itu secara ngompleks.
” Saya akan sekolahkan di kedokteran beberapa delegasi anak yatim dari tengah, utara, timur, selatan, barat. Dipersiapkan jadi solusi kesehatan semua anak yatim dan masyarakat umum,” mimpinya.
Adapun skema pembiayaan pembentukan SMP_IT itu nantinya akan menggandeng BAZNAS Loteng. Dimana, alokasi anggaran penyaluran zakat anak yatim sebanyak 2,5 milyar yang bergulir setiap tahun dimomentum Rahman dan Rahim Day. Sebagiannya akan digunakan untuk biaya operasional Lembaga ini. Ditambah hasil pengumpulan shodaqoh yang sudah berjalan di sekolah-sekolah.
Ditunjuk sebagai pengelola yakni berasal dari unsur Yayasan Peduli Anak Yatim Piatu.
M. zaky Nurzam selaku Kepala sekolah SMPN 6 Jonggat menyambut suka cita wacana Pemda. Mengingat kondisi yang sangat miris seperti istilah ” hidup segan mati tak mau”.
Dikesempatan itu, ia menyodorkan hasil inventaris kebutuhan krusial sekolah antara lain tembok keliling dan penambahan gedung asrama, dan fasilitas pendukung lainnya.
Kades Labulia, Mahjat, mendukung penuh. Menurutnya, ini merupakan cita-cita bersama, maka kita harus upayakan bersama-sama pula.
” Kami telah lama berkoordinasi dengan pihak terkait soal bagaimana langkah terbaik majukan SMPN 6, dan akhirnya perjuangan kami terjawab sudah berkat campur tangan langsung Pak Bupati, Terimakasih,” cetusnya penuh bangga.
Dalam hal ini, Mahjat menegaskan, Pemdes siap turut ambil peran sentral, membantu pembangunan sesuai kapasitasnya. ( irsyad )






