NTB EXPOSE – Sejak mewabahnya Penyakit Mulut dan Kuku pada hewan ternak sapi akhir akhir ini di Kabupaten Lombok Tengah, Provinsi NTB oleh kementerian Dalam Negeri sejak 9 Juni lalu ditetapkan sebagai Daerah Wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) terkait dengan status tersebut sejumlah kabupaten /kota yang ada segera melakukan langkah antisipasi, tak terkecuali Lombok Tengah.
Atas dasar itu, anggota DPRD Lombok Tengah (Loteng) HM. Sidik Maulana dapil VI Batukliang Batukliang Utara ini dengan tegas meminta Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah (Loteng) dalam hal ini Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) tanggap menyikapi banyaknya kasus PMK.
“Kalaupun anggaran dari dinas sudah habis maka paling tidak bisa memakai dana Belanja Tidak Terduga (BTT),” tegasnya
Politisi PKS itu meminta dinas pro aktif dan segera menjemput bola untuk membeli kebutuhan obat-obatan agar hewan ternak masyarakat tidak semakin parah.
“Kasihan para peternak, mereka harus mengeluarkan biaya sendiri dengan jumlah cukup besar untuk mengobati sapinya yang terjangkit PMK,” imbuhnya
Bayangkan, katanya, satu sapi saja peternak harus mengeluarkan biaya sampai Rp 600.000-an untuk biaya obat suntik.
Bahkan, satu sapi yang terjangkit PMK bisa disuntik 3 sampai 6 kali. Secara otomatis peternak mengalami kerugian yang cukup tinggi.
“Miris sekali rasanya ketika para peternak harus mengeluarkan biaya yang tinggi. Sementara, di lain sisi mereka banyak mengalami kerugian dengan terjadinya penurunan bobot badan sapi secara drastis pasca sakit,
yang tidak kalah penting, kata Dewan Dapil Batukliang – Batukliang Utara itu, dinas harus menambah jumlah personil tenaga kesehatan hewan untuk membantu penanganan sapi yang terjangkit agar ditangani secara maksimal hingga bisa pulih seperti sediakala.” jelasnya. (ntbexpose/02)











