Pembangunan Perdana Masjid Al-ikhlas Asahan Tanjung Karang Mataram Berlangsung Semarak

NTB EXPOSE. Mataram – Acara peletakan batu pertama pembangunan Masjid ” Al-ikhlas ” Lingkungan Asahan Kelurahan Tanjung Karang Permai Kecamatan Sekarbela Kota Mataram, Minggu ( 12/06 ) berlangsung begitu semarak. Dihadiri segenap masyarakat, toga, toma, perwakilan pemkot sampai kedatangan Wakil Ketua DPRD Provinsi NTB Drs H Muzihir dari fraksi PPP.

” Alhamdulillah, berdasar hasil musyawarah, kami mufakat memulai pembangunan. Sebelumnya, ini adalah mushola, namun berubah status jadi masjid karena sudah tidak lagi bisa menampung jamaah mukim yang penduduknya semakin bertambah, ” Kata HL. Mahdan Abdul Aziz selaku Ketua panitia pembangunan.

Di RT 12 ini, lanjut Mahdan, terdapat sebanyak 174 KK dengan jumlah warga capai 1000 jiwa lebih.

Meski diawal berbekal anggaran minim. Namun berkat dorongan niat, keinginan, dan tekad kuat dari semua pihak. Diyakini akan berjalan sesuai harapan selagi dilakukan dengan persatuan dan kebersamaan yang solid.

” Memang butuh biaya besar, apalagi direncanakan 2 lantai, sehingga skema pembangunan berjalan fleksibel lah, menyesuaikan kondisi anggaran, tapi tetap target dipercepat, ” Terang Mahdan.

Selain penggalangan dana secara swadaya tentu dukungan moril dan materil juga perlu disentuh para pemangku kebijakan untuk sama-sama berdedikasi bagi kemajuan umat.

Drs H. Muzihir sendiri mengapresiasi penuh setiap antusiasme warga masyarakat membangun masjid  terutama di Lingkungan Asahan. Tapi untuk dimaklumi, tidak sepenuhnya bisa mengandalkan pemerintah karena ada porsi masing-masing.

” Kalau DPR, bentuk intervensinya bisa melalui aspirasi, terpenting juga jangan hanya menunggu, bila perlu harus terus jemput bola, apalagi soal masjid, aksesnya luas, tinggal sebar proposal saja ke biro kesra, kemenag, baznas, bank-bank, juga lembaga-lembaga seperti  Dewan Masjid Indonesia ( DMI ), Masyarakat Ekonomi Syariah ( MES ) dan lainnya” himbau ketua DPW PPP NTB tersebut.

Diungkapkan, secara pribadi ataupun komunitasnya sudah barang tentu turut berikan kontribusi dan partisipasi. Namun tidak semua diumumkan atau bahkan dikaitkan dengan unsur politik semata agar tetap menjaga marwah keikhlasan dalam beramal dan pertahankan esensi fastabiqul khairat jika dalam konteks beragama karena berkaitan hubungan manusia dengan Yang Maha Kuasa.

Diharapkan, dalam setiap iktikad perbuatan baik mesti diiringi rasa tanggung jawab bersama dan kerjasama ekstra agar apa yang diupayakan berjalan lancar dan tuntas sesuai hajatan. ( irsyad )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *