Kedatangan Menteri Pariwisata di Desa Wisata Bonjeruk Ternyata dipersoalkan 

Photo : Lalu Gde Mohamad Salman ( baju hitam ) dan Lalu Gde Adi Permadi SE M.Sc.

Gde Mong : Penilaian ADWI Tidak Obyektif  Sandiaga Uno Gagal Melihat Semua Potensi Desa Wisata Bonjeruk

NTB EXPOSE. Lombok Tengah – Kedatangan Sandiaga Salahudin Uno Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif ke Desa Bonjeruk Kecamatan Jonggat Kabupaten Lombok Tengah Propinsi NTB pada Rabu 3 November 2021 disambut dengan antusias dan penuh sukacita oleh warga masyarakat desa Bonjeruk.

Dalam kesempatan tersebut menurut tokoh pemuda dan penggiat Pariwisata Bonjeruk, Lalu Gde M. Salman dalam press rilisnya  menyatakan bahwa warga desanya bergembira dengan kunjungan Menteri Sandiaga Uno dan kami bersyukur desanya meraih peredikat 50 terbaik Anugerah Desa Wisata Indonesia 2021 menyisihkan ribuan desa lainnya di Indonesia.

Menurut Gde Salman yang akrab disapa Gde Mong ini mengaku kecewa dan menganggap Menteri Sandiaga Uno gagal mendapatkan gambaran utuh dari desa peninggalan kedatuan Jonggat yang terbentuk di tahun 1800-an tersebut,” jelasnya. Diungkapkan Gde Monk, proses dan kronologis penyambutan yang membuatnya kecewa adalah runutan peristiwa tersebut sebagai berikut.

Hari Senin 1 November 2021 sore (sekitar jam 4 sore) saya dihubungi oleh salah satu anggota kreatif Pokdarwis Bonjeruk Permai, menanyakan izin untuk survei lokasi penerimaan Menparekraf Sandiaga Uno oleh Tim Kreatif Menteri. Karena lokasi yang mereka tawarkan ternyata tidak memenuhi syarat dari tim kreatif kementrian.

Senin sore setelah saya koordinasi dengan Ketua Pokdarwis Wirajaya Putra Jonggat ( WPJ ) Lalu Adi Permadi SE M.Sc, salah satu pewaris Gdeng Beleq dan keturunan L. Serinata sekaligus berprofesi sebagai Dosen UNRAM ini, ” saya menerima tim kreatif Menteri Sandiaga Uno, mereka menanyakan aturan di situs sejarah ( Heritage Historical Building atau Gdeng Beleq ” jika acara penyambutan Menteri Sandiaga Uno diadakan di Gdeng Beleq seperti yang akan direncanakan, apakah rumput ditaman/halaman bisa diinjak dan lain sebagainya, saya bilang bisa dan tidak masalah siap dipasangi terop dan lainnya saya nyatakan siap,” kata Gde Mong.

Ketika malam harinya saya menghadiri undangan rapat di Pasar Bambu ternyata baru saya tahu kalau besoknya atau hari Selasa ada tim penilai Anugrah Desa Wisata, hasil rapat tersebut disepakati terlebih dahulu mereka meminta shoting di Gedeng Beleq yang ditunjuk sebagai salah satu lokasi penilaian lomba, sayapun menyetujui karena kepentingan atas nama Desa Wisata Bonjeruk,” Jelasnya.

Kemudian hari Selasa 2 November 2021 kami bersihkan lokasi dan sekitar pukul 2 tim penjurian lomba ADWI 2021 menyaksikan atraksi seni budaya pembacaan lontar yang dilakukan oleh salah satu seniman ahli Sanskerta Bonjeruk Gde Su, dan malamnya kita berjanji untuk rapat membahas penyambutan Menteri Sandiaga Uno. saya dijanjikan rapat sekitar habis Magrib namun saya belum juga dihubungi sampai jam setengah 9. Setelah itu saya berinisiatif mengunjungi mereka, ternyata saya mendapat jawaban tidak enak, bahwa tempat kami Heritage Historical Building atau situs sejarah Gdeng Beleq tidak jadi dipakai.

Gde Mong selanjutnya mengungkapkan bahwa Pertama, kami kecewa dengan pengurus Pokdarwis Bonjeruk Permai yang sampai hari sesuai kesepakatan itu. tidak ada konfirmasi apapun, mereka tidak ada lagi menghubungi kami. Setelah acara selesai setidaknya mereka perlu menghubungi atau mendatangi kami bersilaturahmi menjelaskan persoalannya agar tidak terjadi miskomunikasi.

Karena sebelumnya kami berusaha untuk duduk bersama, terbuka dan bersinergi dengan mereka. Kedua, Kami kecewa dengan Pemerintah Desa Bonjeruk yang tidak obyektif, tidak fair atau tidak adil dan cenderung berat sebelah dalam memperhatikan kami, begitu juga dalam melakukan pelibatan pemberdayaan ataupun memberikan bantuan penganggaran DD/ADD kepada Pokdarwis WPJ, ” nol sama sekali sejak mulai terbentuknya Desa Wisata Bonjeruk dan Kelompok kami,” kata Gde Mong.

Ketiga, Kami kecewa dengan Kepala Dinas Pariwisata dan kebudayaan Kabupaten Lombok Tengah, menurut kami ini menunjukkan ketidakmampuan dalam mengatasi persoalan seperti ini, saya yakin beliau cuma menerima laporan-laporan saja tidak pernah mengecek kelapangan, kalau memang memeriksa kelapangan beliau pasti akan melibatkan kami. Hal yang sama juga kami tujukan ke Dispar Provinsi NTB juga tidak obyektif melakukan penilaian dan menghimpun semua potensi di desa kami.

Menurut Gde Mong, dirinya menduga ada hal-hal yang ditutupi dan penuh rekayasa dalam persoalan dan penilaian desa wisata Bonjeruk ini yang tidak ditata kelola secara utuh, obyektif dan adil bagi semua warga desa  Bonjeruk, sehingga realita potensi Desa  Bonjeruk  sebagai Desa Wisata yang lekat dengan seni budaya dan Sejarah yang sebenarnya tidak dimunculkan.

Selain itu Gde Mong juga meragukan objektivitas penilaian dari lomba desa wisata tersebut. ” Bagaimana menilai dengan baik toh hanya sedikit sekali potensi desa kami yang terekam oleh mereka,”

Kedepan kami ingin agar hal hal seperti ini tidak terjadi lagi kedepan dan mudah2an ini bisa jadi pembelajaran dan masukan positif agar ada solusi bagi kita semua,” kata Gde Mong Ketua DPD GARDANTARA Lombok Tengah dan juga sebagai anggota pengurus Gerakan ekonomi kreatif nasional (Gekrafs) Lombok Tengah. Setelah berita ini diturunkan pihak pihak terkait belum bisa dihubungi guna dikonfirmasi. (ntbexpose/03)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *