NTB EXPOSE. Lombok Tengah – Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Aliansi Rakyat Menggugat Nusa Tenggara Barat ALARM-NTB menggelar diskusi dalam upaya menganalisa isu-isu Strategis dan mencari terobosan baru dalam rangka mendukung percepatan pembangunan daerah.
Untuk menggali dan dapat memberikan rekomendasi kepada pemerintah dalam upaya mempercepat pembangunan tersebut.” dalam diskusi kali ini kami memang sengaja mengundang beberapa Nara Sumber yang nantinya dapat memberikan gambaran sebagai rekomendasi untuk Pemerintah Daerah,”ucap Lalu Hizy Ketua LSM ALARM NTB.
Diskusi aktif yang digelar tersebut di hadiri oleh beberapa Nara Sumber antara lain. HL.Sajim Sastrawan HL. Putria S.Pd M.Pd dan Hasan Masat. yang dimoderatori oleh Bustomi Taefuri dari SUAKA hingga hadir juga sejumlah insan Pers dan para aktivis LSM juga hadir sebagai peserta dalam diskusi tersebut.
Dalam ulasan budaya lokal yang disampaikan Tokoh Budaya Lombok HL. Putria mengajak masyarakat untuk tetap bangga menjadi orang Sasak.”Kita memiliki ragam budaya yang luar biasa di Lombok Tengah Ini, namun saat ini bagaimana kemudian kita mampu mengemas hal ini agar menjadi terkenal bukan hanya sebatas budaya Nusantara tetapi bagaimana memperkenalkan budaya kita ke tingkat dunia,”singkatnya.
Sementara itu HL. Sajim dalam ulasannya sangat motivatif dalam upaya meningkatkan daya ungkit perekonomian di Lombok Tengah. Dalam kesempatan tersebut beliau juga mengomentari pesoalan keberadaan IPDN, Poltekpar,”paparnya. Dalam acara tersebut L.Hizi juga menyampaikan hasil dari diskusi tersebut akan di rekomendasikan kepada pemerintah sehingga apa yang menjadi tujuan dan cita-cita dari diskusi ini memiliki tujuan yang jelas.
Dalam diskusi terbatas tersebut yang menarik adalah statement dari L.Tajir Syahroni salah seorang mantan calon Bupati Lombok Tengah yang mempertanyakan keseriusan masing masing dalam memberikan kontribusi sikap dan pemikiran untuk menuju pembangunan daerah kearah yang lebih baik,” ungkap Tajir.
Hal senada juga dikatakan oleh Lalu Alamin dari SWIM ( Solidaritas Warga Inter Mandalika ) Dirinya melihat diskusi ini dalam sudut pandang dirinya sebagai pelaku Pariwisata ada semacam ketidak adilan ketika KEK Mandalika digaungkan dan dibangun oleh Pemerintah sepertinya tidak berpihak kepada masyarakat lokal dan masyarakat lokal itu bukan masyarakat warga Kuta saja tapi juga desa desa lainnya yang didaulat sebagai desa penyangga KEK Mandalika.
Kemudian salah satu yang dikiritisi oleh Lalu Alamin adalah pembangunan hotel CasaBaio Raja Mandalika yang terkesan tertutup dan tidak mencerminkan keberpihakan terhadap masyarakat sekitar.
“keberadaan hotel tersebut dinilai tidak jelas kontribusinya bagi daerah walaupun informasinya hotel tersebut disewakan selama 30 tahun oleh Pemda Loteng kepada pihak swasta, ” kami tidak ingin nantinya jika betul disewa selama 30 tahun dan setelah selesai Pemda diberikan fisik bangunan hotel yang sudah hampir tua dan mau roboh dengan kontribusi yang tidak jelas. Oleh karena itu hal ini harus dikaji dan dibahas agar mendapatkan hasil positif bagi semua pihak,” jelas Lalu Alamin.
Selanjutnya berbagai saran masukan diberikan oleh para peserta lainnya seperti Baiq Arya Ningrum salah seorang tokoh aktivis perempuan mengkritisi kebijakan pemerintah yang tidak berpihak kepada masyarakat.
Begitu juga seperti saran kritis yang dilontarkan Hamzan Halilintar dari Gempar NTB. Lalu Ibnu dari Gong Praje Sasak. Deni Sukria Sakti dari Bapera Loteng, Ikhsan Ramdani dari Formapi, Kepala Desa Bonder hingga para peserta lainnya turut memberikan kontribusi pemikiran positif mereka dalam diskusi tersebut. (ntbexpose/04)











