NTB EXPOSE. Lombok Tengah – Lalu Alamin selaku Ketua SWIM ( Solidarifas Warga Inter Mandalika ) Sabtu (30/1) dalam siaran persnya mengatakan. Baru-baru ini salah satu Komisaris ITDC, H. Irzani, di laman sosial medianya mengunggah foto masjid kebanggaan ITDC, Nurul Bilad, dengan narasi yang memantik kebingungan dan ketersinggungan kultural bagi warga Lombok Selatan.
Lalu Alamin menjelaskan. Dalam unggahannya Irzani menyebutkan bahwa desain arsitektur Masjid Nurul Bilad yang mengadopsi rumah adat Sasak di Bayan itu diharapkan dapat mempererat tali persaudaraan antarumat beragama di daerah tercinta.
Dalam hal referensi kultural, mengapa rumah adat Bayan yang dirujuk, Kenapa rumah, Dan kenapa Bayan. Bukankah arsitektur masjid-masjid pada era sebelumnya di seluruh pulau Lombok memang sudah seperti itu, yaitu menggunakan atap limasan berundak.
Lalu mengapa harus merujuk ke arsitektur rumah. Dari segi kekayaan budaya, Lombok Tengah secara umum, dan Pujut secara khusus, yang merupakan locus KEK Mandalika masih menyimpan kekayaan budaya fisik arsitektur yang bisa dijadikan rujukan. Di sini ada kampung Sade dan Sasak Ende yang masih melestarikan legasi arsitektur rumah tradisional suku Sasak. Kalau masih ngotot mau merujuk arsitektur rumah tradisional, mengapa tidak mengadopsi desain yang tersedia di salah satu kampung tradisional di atas.
Dari tiga masjid kuno yang tercatat sebagai benda cagar budaya di Pulau Lombok yaitu masjid kuno Rambitan, masjid kuno Gunung Pujut, dan Masjid kuno Bayan, dua di antaranya berada di Pujut. Lalu mengapa harus jauh-jauh mengambil referensi ke Bayan. Apakah legasi nenek moyang kami di Pujut kurang kredibel,” tanya Lalu Alamin.
Satu hal yang tak kalah membingungkan adalah peran masjid Nurul Bilad untuk mempererat tali persaudaraan antarumat beragama di daerah ini. Dalam pandangan ekstrim, pernyataan ini menimbulkan kecurigaan jangan-jangan masjid ini nantinya akan mengakomodir kegiatan-kegiatan seremonial maupun ritual agama-agama lain. Ini benar-benar sebuah kegaduhan.
Sebagai penutup kami ingin menyampaikan kekhawatiran bahwa sepertinya Irzani tidak menyadari bahwa penamaan KEK Mandalika itu sendiri merupakan bentuk adopsi dari unsur budaya tempatan oleh para pendahulunya. Kegagalannya dalam mengadopsi dan melanjutkan ruh serta memahami ruang lingkup dari institusi di mana dia berada menunjukkan bahwa dia adalah the wrong person in the wrong place,” tutup Lalu Alamin.(ntbexpose/05)










