NTB EXPOSE. Lombok Tengah – Beberapa hari lagi even MotoGP akan digelar. Jauh-jauh sebelumnya MotoGP sudah dipublikasikan baik oleh pihak yang berkepentingan dan penyelenggara MotoGP maupun oleh Pemerintah, bahwa peminatnya akan membeludak. Pengadaan kamar inap calon penonton yang ada di Lombok tidak mencukupi bahkan kamar inap di Karangasem Bali pun dibooking habis. Karena diharapkan MotoGP akan meraup ratusan ribu penonton.
Namun ternyata semua itu ditanggapi dingin oleh Nujumudin yang berprofesi sebagai pengamat sosial ekonomi dan lingkungan. Seperti dikatakannya kepada media, Sabtu (12/3). Saya yakin even MotoGP justru akan sepi penonton baik yang berasal dari luar negeri maupun dalam negeri karena dinilai tidak mencapai target.
Mahasiswa Program Doktor Universitas Udayana ini memprediksikan even MotoGP sepi penonton disebabkan beberapa hal seperti Program satgas Covid-19 yang harus swab dan jaga jarak, kondisi masyarakat Eropa tidak kondusif, mengalami kesulitan datang ke Indonesia terlebih pelarangan terbang di udara Ukraina yang sedang perang dengan Rusia, penonton di dalam negeri juga akan malas datang ke lokasi lomba karena acara ini dilaksanakan di musim hujan dan mepet dengan datangnya bulan puasa. Terlebih masyarakat Lombok atau masyarakat NTB sedang menghadapi musim panen yang tidak bisa ditinggalkan dan berikutnya membajak yang ke dua. Sebagian besar warga Lombok adalah buruh tani bukan petani.
Mereka mengisi kesempatan berburuh pergi ngerampek atau panen padi
Sejak serangan Covid-19 perekonomian masyarakat Indonesia lumpuh total terutama yang paling terasa adalah mereka pelaku pariwisata seperti masyarakat Bali.
Masyarakat Indonesia tidak terbiasa nonton olahraga dan lomba motor dianggap berbahaya bagi penonton. Jangankan bayar tiket, digratiskan juga mereka enggan karena tidak hobi. Mereka memikirkan kalau datang waktu sholat di sirkuit, kemana ambil air wudhu. Saya tidak tahu apakah di lokasi MotoGP disediakan Musholla atau tidak, apakah keluar masuk Sirkuit cukup dengan tiket yang sudah mereka miliki atau harus beli lagi,”ungkapnya.
Khusus masyarakat Lombok sebulan sebelum bulan puasa tiba, mereka menyiapkan bekal untuk berpuasa termasuk di dalamnya kebutuhan pakaian lebaran. Jadi daripada membuang uang untuk nonton MotoGP, mereka lebih memperhatikan bekal untuk beribadah puasa.
Nujum mengatakan penonton olahraga akan ramai bila tempatnya sesuai dengan daya dukung masyarakat di sekitarnya. Seperti pecandu sepak bola adalah masyarakat Eropa, sebagian Afrika dan Amerika latin. Biasanya selain menikmati pertandingan, perjudian internasional juga alot dilakukan.
Demikian juga MotoGP yang akan bertarung beberapa hari ke depan di Sirkuit Kuta Lombok. Tapi karena target penonton banyak dari masyarakat Indonesia yang mereka itu adalah rata-rata beriman, menghindari perjudian, dari kalangan ekonomi rendah, maka mereka akan lebih memilih kumpulkan bekal untuk berpuasa. Seandainya harga tiket Rp. 250.000, mereka bisa membelikan anaknya satu pakaian lebaran. Apalagi lebih dari itu, susah untuk dihadapkan untuk sebagai penonton.
Untuk mengantisipasi even MotoGP sepi penonton, beberapa hari yang lalu Pemerintah NTB berniat mewajibkan ASN menonton even internasional yang dielu-elukan jauh-jauh sebelumnya berarti ada kekhawatiran Pemda NTB terhadap MotoGP yang bakalan sepi penonton. Benar atau tidak kita bisa melihatnya nanti,” pungkas Nujumuddin.(ntbexpose/03)






