Zaenal Arifin : Luas lahan penanaman jagung di Lombok Tengah sekitar 17 ribu Ha dengan HPP dari pemerintah 5500 rupiah /kg
NTB EXPOSE. LOMBOK TENGAH – Guna mewujudkan program pemerintah pusat melalui Kementrian Pertanian RI untuk melaksanakan swasembada pangan menuju ketahanan pangan nasional, di berbagai Propinsi maupun di kabupaten termasuk di Kabupaten Lombok Tengah, pemerintah menggalakkan penaman jagung. Beberapa waktu lalu kita sudah melakukan panen jagung pada kwartal ketiga, di Dusun Sampit, Desa Selebung Kecamatan Batukliang Kabupaten Lombok Tengah, ungkap Zaenal Arifin S.St selaku Kepala Bidang Perkebunan dan Holtikultura, mewakili Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Lombok Tengah kepada media baru-baru ini.
Dikatakannya, adapun pendampingan yang kita lakukan bekerja sama dengan pihak aparatur kepolisian di Polres Lombok Tengah untuk penanaman Jagung, terus dilakukan bersama masyarakat petani. Sedangkan untuk penanaman padi kita melibatkan anggota TNI pada Kodim 1620 Lombok Tengah.
Untuk luas lahan penanaman jagung di Lombok Tengah sekitar 17 ribu Ha yang tersebar di berbagai Kecamatan kalau kita hitung rata-rata produksi 5 ton / Ha pipilan kering jika dikalikan dengan 17 ribu Ha, itulah jumlah jagung yang kita produksi di Lombok Tengah walaupun kita bukan sentra produksi jagung sebenarnya.
Adapun estimasi atau perkiraan hasil panen jagung kalau semua lahan ditanami jagung kita ya tinggal dikalikan saja 5 ton kali 17 ribu Ha hasilnya 85 ribu ton pertahun. Namun untuk hasil panen pada tahun 2024 lalu, masyarakat menanam pada lahan seluas 15 ribu Ha atau fluaktuasi hasil panen untuk tahun 2025 pada lahan seluas15 ribu menjadi 17 ribu Ha.
Jagung ini disamping pemerintah setelah mengeluarkan HPP tahun ini termasuk luarbiasa, atau harga beli dari pemerintah 5500 rupiah/kg untuk jagung kering dan itu yang diserap Bulog dengan harga 5500 itu juga dengan kadar air14 %.
” Diketahui HPP adalah singkatan dari (Harga Pembelian Pemerintah), yaitu harga yang ditetapkan pemerintah untuk membeli komoditas pertanian, dalam hal ini jagung, dari petani. Pemerintah menetapkan HPP jagung sebesar Rp5.500 per kilogram untuk melindungi petani dari fluktuasi harga yang merugikan dan menjaga stabilitas harga di pasar. Dengan HPP ini, pemerintah melalui Bulog akan menyerap hasil panen petani jagung untuk memperkuat stok Cadangan Jagung Pemerintah dan mendukung ketahanan pangan nasional.
Dijelaskan Zaenal, walaupun banyak jagung petani diserap bulog namun tidak semua jagung petani tersebut diserap bulog penyerapan jagung petani itu tergantung dari jumlah anggaran yang dikelola dan berdasarkan kuota serapan yang telah dilakukan bulog. Jadi dengan adanya HPP oleh pemerintah terkait pembelian jagung dengan kadar air 14 % itu
Petani menjual dalam bentuk tongkol, mereka tidak mau repot, waktu kita tanya petani pada saat panen Jagung di Selebung itu petani menjual 2500 /kg namun dalam bentuk tongkol dan itu mesti harus ada perlakuan lagi untuk mengolah dalam bentuk butiran pipilan jagung kering, karna sebenarnya kalau petani jual jagung dalam pipilan kering tentu itu lebih bagus, namun prinsip petani itukan harus dapat untung, ya sudahlah,” kata Zaenal.
Dijelaskannya, adapun lokasi lahan tanaman jagung yang tersebar di Lombok Tengah pertama ada di Kecamatan Pujut, Praya Barat, Praya Barat Daya, mereka menanam di lahan tegalan atau di lereng perbukitan, biasanya kalau bulan Oktober, November dan bulan Desember mereka menanam jagung.
Kemudian yang menanam jagung dilahan sawah lebih banyak di Kecamatan Jonggat, Kopang, dan di Kecamatan Praya juga ada salah satunya di Desa Bunut Baok kendati ada yang memberikan kontribusi penanaman di Kecamatan Praya, Kopang dan Jonggat.
Namun yang paling banyak memberikan dukungan kontribusi produksi penanaman yang luas justru ada di Kecamatan Pujut, Praya Barat dan Praya Barat Daya karena mereka menanam di musim hujan, besok bisa dibuktikan pada musim hujan bulan November dan Desember ini masyarakat sekitar pasti penuh bukit-bukit di selatan ditanami jagung.
Lebih jauh dikatakan Zaenal, terkait dengan program pusat dalam rangka menjaga kedaulatan pangan dengan berswasembada pangan ini merupakan salah satu cara untuk mencapai tujuan itu, swasembada itu bukan pada swasembada beras saja namun termasuk jagung juga.
Karena kalau berbicara ketahanan pangan kita juga mengenal namanya komoditas lokal dan sebenarnya lokal yang dimaksud disini adalah tidak mesti padi, saja melainkan ubi kayu dan ubi jalar, ini yang mulai digalakkan sekarang.
Seperti contohnya, di Kecamatan Jonggat bantuan bibit untuk ubi itu ada disalurkan kepada masyarakat petani, perkelompok diberikan bibit ubi jalar dan ditanam minimal pada 10 are perkelompok guna mensuport produksi tepung tapioka yang ada di Batukliang Utara. Diketahui untuk mensuport pabrik tepung tapioka di Pancor Dao itu kita kesulitan bahan baku, kita akan coba dan kembangkan ubi kayu pada tahun ini.
Namun khusus ubi kayu untuk produksi tepung, saat ini kita sedang mengupayakan pengadaan bibitnya yang akan kita datangkan dari Jawa dan sekarang masih sedang proses sertifikasi dan harus berlabel
Kembali kepada tanaman jagung jagung kita di Lombok ini kadang ada yang didatangkan dari Pulau Sumbawa dan jagung kita ini juga didrop ke luar daerah untuk dijadikan bahan industri pakan ternak, pakan ikan dan lain sebagainya.
Untuk kerjasama penanaman dengan pihak Polres memang sudah ada turunan instruksi dari pusat agar bersama sama dalam penanganan ketahanan maupun swasembada pangan nasional guna mensukseskan program yang di gaungkan Presiden RI melalui Kementrian pertanian dan pihak Polri di pusat untuk melakukan pengawalan sekaligus bersama sama melakukan penanaman jagung di berbagai belahan daerah di propinsi yang tersebar di seluruh Indonesia,” imbuh Zaenal.
Kerjasama Dinas Pertanian Lombok Tengah dengan pihak Polres Lombok Tengah dalam penanaman jagung
Dari informasi yang dihimpun media, sebelumnya Kapolres Loteng AKBP Eko Yusmiarto Dampingi Kapolda NTB Irjen Pol. Hadi Gunawan, S.H., S.I.K panen raya jagung serentak kuartal III di Dusun Sampit Desa Selebung Kecamatan Batukliang, (27/9) lalu.
Panen raya jagung kuartal III di Desa Selebung ini dilakukan dilahan seluas 10 hektare dengan hasil panen sebanyak 50 ton. Kegiatan ini menunjukkan komitmen Polri bekerja sama dengan kementrian Pertanian RI dalam mendukung program Swasembada Pangan Tahun 2025 dan menjadikan Indonesia menjadi lumbung pangan dunia.
Panen raya ini melibatkan berbagai unsur dan kelompok tani guna mendukung produksi pertanian di wilayah NTB.
Dalam kesempatan tersebut Kapolda NTB Irjen Pol. Hadi Gunawan, S.H., S.I.K dalam sambutannya menegaskan, peran strategis Polri tidak hanya sebagai penegak hukum, tetapi juga sebagai motor penggerak dalam sektor pertanian.
”Panen Raya ini merupakan wujud nyata Polri dalam mendukung Ketahanan Pangan melalui produksi jagung, yang didedikasikan untuk mendorong kesejahteraan para petani serta berperan penting dalam berbagai sektor industri dan ketahanan,” ujar Kapolda.
Lebih lanjut, beliau menyampaikan komitmen Polri untuk tidak hanya menjamin keamanan, tetapi juga terlibat aktif dalam kegiatan pertanian maupun pendampingan pertanian. Ditekankan bahwa kegiatan panen jagung ini akan memberikan dampak positif yang luas di sektor lain seperti industri dan selaras dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Kapolda menyebut jagung sebagai “Emas Hijau” yang ditanam untuk masa depan yang sejahtera. Beliau juga mendorong para petani untuk menggunakan teknologi modern guna mempercepat produksi dan mencapai surplus pangan.
Kapolda juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah memberikan kontribusi tenaga dan pikiran, mulai dari penanaman, produksi hingga menjamin ketahanan pasokan pupuk.
Dalam Kegiatan tersebut Kapolda NTB dengan memberikan bantuan kepada perwakilan Kelompok Tani dan warga yang membutuhkan sebagai bentuk apresiasi dan dukungan Polri dalam memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.
Puncak acara ditutup dengan seremoni Pemberangkatan Hasil Panen Jagung dari lokasi panen raya jagung menuju Bulog NTB, menandai kontribusi hasil panen jagung ini dalam penguatan stok dan stabilisasi harga pangan khususnya di Provinsi NTB. (Ntbexpose/04)






